Jelang Musim Kemarau, Harga Bibit Porang di Pule Trenggalek Kian Melejit

Wina Purwanto 24 Juni 2026 21:45:08 WIB

TRENGGALEK – Memasuki masa transisi menuju musim kemarau, gairah sektor pertanian di Kabupaten Trenggalek justru kian menghangat. Komoditas porang, yang beberapa tahun terakhir menjadi primadona tanaman ekspor, kembali menunjukkan taji di pasar domestik. Menariknya, lonjakan signifikan tidak hanya terjadi pada hasil panen, melainkan pada harga bibit tanaman yang kini harganya kian melejit tinggi di tingkat pengepul dan penjual lokal.

Fenomena meroketnya harga bibit ini terpantau jelas di kawasan sentra budidaya, salah satunya di wilayah Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, beberapa lapak penjual bibit tradisional hingga modern mulai dipadati oleh para petani yang ingin mengamankan stok bibit sebelum kemarau benar-benar memuncak dan stok di pasaran menipis.

Katak Super dan Umbi Mini Jadi Incaran

Tingginya permintaan pasar yang tidak sebanding dengan ketersediaan barang membuat grafik harga merangkak naik secara drastis. Salah satu jenis bibit yang paling diburu adalah jenis katak super (bulbil yang tumbuh pada ketiak daun porang dengan kualitas premium dan ukuran maksimal). Saat ini, harga katak super di wilayah Pule telah menembus angka Rp 150.000 per kilogram.

Tidak kalah bersaing, bibit yang berasal dari pecahan umbi mini juga mengalami lonjakan harga yang cukup menguras kantong para petani. Untuk jenis umbi mini, harga saat ini berkisar di angka Rp 25.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Bahkan, untuk umbi mini dengan kualitas pilihan, harganya bisa melonjak lebih mahal lagi.

"Harga tersebut sangat fluktuatif dan sangat tergantung pada besaran umbi serta kualitas fisiknya. Semakin bersih, sehat, dan seragam ukurannya, tentu harganya bisa jauh di atas harga rata-rata pasar," ungkap salah satu penjual bibit di Desa Puyung.

Strategi Petani Menghadapi Lonjakan Harga

Meskipun harga bibit dirasa cukup tinggi, para petani di Kecamatan Pule tampaknya enggan menyerah begitu saja. Bagi mereka, membeli bibit menjelang musim kemarau justru menjadi strategi tersendiri. Waktu kemarau digunakan untuk melakukan proses karantina, pembersihan, dan penyimpanan bibit (dorman) dengan benar, sehingga begitu hujan pertama turun di akhir tahun nanti, bibit sudah dalam kondisi siap tanam dan bertunas dengan optimal.

Para pelaku usaha pertanian di Trenggalek berharap, melejitnya harga bibit di awal musim kemarau ini menjadi sinyal positif bahwa harga jual umbi porang produksi saat panen raya nanti juga akan ikut terkerek naik, sehingga investasi besar yang mereka keluarkan di awal musim ini dapat terbayar lunas dengan keuntungan yang melimpah

Serbuan Pupuk Kompos Kota dan Geliat "Demam Porang" Baru

Tak hanya ditandai dengan melejitnya harga bibit katak super maupun umbi mini, fenomena "demam porang" yang kembali mencuat di kawasan pegunungan Kecamatan Pule ini juga memicu pergeseran tren di sektor hulu pertanian. Salah satu pemandangan mencolok yang kini lazim dijumpai di jalur-jalur menanjak Desa Puyung adalah hilir mudiknya kendaraan bak terbuka yang mengangkut pupuk kompos kotoran ayam dalam jumlah besar.

Warga setempat berbondong-bondong memesan dan mendatangkan pupuk kompos kotoran ayam yang dikirim langsung dari daerah sentra peternakan di wilayah perkotaan. Permintaan yang melonjak tajam ini sempat membuat para penyedia pupuk kewalahan memenuhi pesanan yang terus mengalir dari wilayah dataran tinggi tersebut.

Alasan Di Balik Pilihan Kotoran Ayam

Fenomena ini tergolong unik dan menarik perhatian. Pasalnya, mayoritas masyarakat di daerah pegunungan Trenggalek sebenarnya memiliki hewan ternak sendiri, seperti kambing ataupun sapi, yang menghasilkan ketersediaan pupuk kompos melimpah di sekitar pekarangan rumah mereka.

Namun, demi mendapatkan hasil panen porang yang maksimal dan berbobot, para petani sengaja beralih dan mengombinasikannya dengan kotoran ayam dari kota. Beberapa alasan utama yang mendasari pilihan tersebut antara lain:

  1. Kandungan Unsur Hara yang Cepat Serap: Pupuk kotoran ayam dikenal memiliki kandungan Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) yang relatif lebih tinggi dan lebih cepat terurai dibandingkan kotoran sapi atau kambing, sehingga sangat memicu pertumbuhan vegetatif porang di awal musim.
  2. Mengejar Efisiensi Waktu: Kotoran ayam dari kemitraan peternakan besar biasanya cenderung lebih kering dan mudah difermentasi secara massal, siap diaplikasikan bersamaan dengan pengolahan lahan sebelum kemarau berakhir.

 

Persiapan Lahan yang Matang

Kombinasi antara bibit premium—seperti katak super dan umbi mini dengan asupan nutrisi dari pupuk kompos kotoran ayam ini menjadi modal utama para petani pegunungan.

Dengan mempersiapkan lahan sedini mungkin di awal musim kemarau, tanah penanam memiliki waktu yang cukup untuk menyerap pupuk organik tersebut. Langkah ini diambil agar saat musim penghujan tiba nanti, struktur tanah pegunungan yang gembur sudah kaya akan nutrisi dan siap memacu pertumbuhan umbi porang hingga mencapai ukuran maksimal saat panen raya tiba.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar