Semangat Ibu-Ibu Muda Lestarikan Budaya, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” Bergema dari Desa Puyung
Wina Purwanto 30 Maret 2026 11:16:44 WIB
Puyung-Trenggalek – Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian mengubah wajah kehidupan masyarakat, secercah harapan pelestarian budaya tradisional justru tumbuh dari lingkungan sederhana di Dusun Ponggok, Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Sekelompok ibu-ibu muda yang tergabung dalam Karawitan Putri “Mugi Rahayu” dengan tekun dan penuh semangat menjaga denyut nadi seni karawitan agar tetap hidup dan berkembang.
Karawitan Putri “Mugi Rahayu” merupakan kelompok seni tradisional yang berasal dari RT 13 RW 07 Dusun Ponggok. Kegiatan mereka berpusat di rumah Bapak Sunardi dan Ibu Suyatni yang sekaligus menjadi sekretariat sekaligus tempat latihan rutin. Dari rumah sederhana tersebut, alunan gamelan yang khas dan penuh harmoni kerap terdengar, menjadi simbol kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur.
Kelompok ini dipimpin oleh Ibu Murtiani, sosok perempuan yang dikenal gigih dan penuh dedikasi dalam menggerakkan para anggotanya. Di bawah kepemimpinannya, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” tidak hanya menjadi wadah berkesenian, tetapi juga ruang pembelajaran dan pelestarian nilai-nilai budaya Jawa yang adiluhung.
“Tujuan kami sederhana, ingin melestarikan budaya Jawa asli agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Kami ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai karawitan,” ungkap Ibu Murtiani saat ditemui di sela-sela latihan.
Latihan rutin yang digelar secara berkala selalu diikuti dengan antusias oleh para anggota. Dengan mengenakan pakaian sederhana dan penuh keakraban, para ibu duduk melingkar di sekitar perangkat gamelan seperti bonang, kendang, dan gong. Di tangan mereka, alat-alat musik tradisional itu menghasilkan alunan gending yang merdu, mencerminkan kekompakan dan kesungguhan dalam berlatih.
Menariknya, meskipun mayoritas anggota merupakan ibu rumah tangga, mereka mampu membagi waktu antara tanggung jawab keluarga dan kegiatan seni. Semangat gotong royong dan kebersamaan menjadi kunci utama keberlangsungan kelompok ini.
Di era digital seperti saat ini, tantangan dalam melestarikan seni tradisional tidaklah ringan. Masuknya budaya modern melalui berbagai media sering kali membuat kesenian tradisional kurang diminati, terutama oleh generasi muda. Namun demikian, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” tidak menyerah. Mereka terus berupaya mempertahankan eksistensi dengan menghadirkan suasana latihan yang santai, terbuka, dan penuh kekeluargaan.
Tak jarang, anak-anak yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mulai mengenal bahkan mencoba memainkan alat musik gamelan. Hal ini menjadi harapan tersendiri bagi para anggota, bahwa kelak akan muncul generasi penerus yang melanjutkan tradisi karawitan di Desa Puyung.
Dukungan dari masyarakat sekitar juga menjadi faktor penting dalam keberlangsungan kelompok ini. Bapak Sunardi dan Ibu Suyatni selaku tuan rumah sekretariat mengaku bangga dengan semangat para ibu-ibu yang terus menjaga budaya lokal. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga semakin berkembang dan bisa dikenal lebih luas,” ujar mereka.
Selain sebagai sarana pelestarian budaya, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” diharapkan nantinya bisa tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti hajatan, peringatan hari besar, hingga acara desa. Kehadiran mereka selalu menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan nuansa tradisional yang hangat dan sarat makna.
Apa yang dilakukan oleh ibu-ibu muda di RT 13 RW 07 Dusun Ponggok ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tidak harus dimulai dari hal besar. Justru dari langkah kecil, dari ruang sederhana, dan dari niat tulus untuk menjaga warisan leluhur, budaya dapat terus hidup dan berkembang.
Di tengah arus globalisasi yang tak terelakkan, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” menabuh harapan—bahwa budaya Jawa akan tetap lestari, mengakar kuat di tengah masyarakat, dan terus diwariskan kepada generasi mendatang.Setiap pertemuan rutin, para anggota yang mayoritas merupakan ibu-ibu muda tampak antusias mengikuti latihan. Dengan mengenakan busana sederhana, mereka duduk melingkar di sekitar perangkat gamelan seperti bonang, kendang, dan gong. Tak hanya memainkan alat musik, mereka juga membawa buku catatan berisi notasi gending yang dipelajari bersama.
Ketua kelompok Karawitan Putri “Mugi Rahayu” Ibu Murtiani menambahkan bahwa keberadaan komunitas ini bukan sekadar wadah berkesenian, melainkan juga sarana mempererat kebersamaan antarwarga. “Kami ingin ibu-ibu di sini punya kegiatan positif. Selain itu, kami juga punya misi besar, yaitu melestarikan budaya Jawa agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah menarik minat generasi muda agar tetap mencintai seni tradisional. Di era digital yang serba cepat, seni karawitan sering kali dianggap kuno dan kurang menarik. Namun demikian, kelompok ini tidak menyerah. Mereka terus berinovasi dengan mengemas latihan secara santai dan kekeluargaan, sehingga mampu menarik partisipasi warga.
Menariknya, kegiatan karawitan ini tidak hanya diikuti oleh ibu-ibu, tetapi juga melibatkan anak-anak yang ikut menyaksikan bahkan belajar secara langsung. Hal ini diharapkan dapat menjadi langkah awal regenerasi pelestari budaya di Desa Puyung.
Lebih dari itu, geliat seni budaya di RT 13 RW 07 Dusun Ponggok tidak hanya berhenti pada karawitan semata. Di wilayah ini juga tumbuh dan berkembang berbagai kesenian tradisional lainnya, seperti Seni Jaranan Turongo Mulyo yang sarat akan nilai-nilai heroik dan spiritual, serta Seni Hadrah Banjari yang kental dengan nuansa religi dan syiar Islam. Keberagaman kesenian ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat setempat memiliki komitmen kuat dalam menjaga identitas budaya mereka.
Keberadaan berbagai kelompok seni tersebut menjadi cerminan bahwa RT 13 tetap kokoh sebagai basis pelestarian seni tradisi. Meskipun tidak dipungkiri, budaya modern terus membanjiri kehidupan masyarakat melalui teknologi, media sosial, dan gaya hidup masa kini. Namun demikian, warga setempat mampu menyikapi hal tersebut dengan bijak—tidak menolak modernisasi, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai budaya lokal sebagai jati diri.
Harmoni antara tradisi dan modernitas inilah yang menjadikan Dusun Ponggok, khususnya RT 13, sebagai contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi. Kegiatan seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter, memperkuat solidaritas sosial, serta menanamkan rasa cinta terhadap warisan leluhur.
Bapak Sunardi selaku tuan rumah sekretariat mengaku bangga dengan semangat para ibu-ibu serta masyarakat sekitar. “Kami sangat mendukung semua kegiatan seni di sini. Harapannya, generasi muda bisa ikut melestarikan, jangan sampai budaya kita hilang,” tuturnya.
Karawitan Putri “Mugi Rahayu” bersama kelompok seni lainnya juga kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti hajatan, peringatan hari besar, hingga acara desa. Kehadiran mereka bukan hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal di tengah masyarakat.
Di tengah gempuran budaya global, langkah kecil yang dilakukan oleh warga RT 13 Dusun Ponggok ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari lingkungan terkecil. Dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap warisan leluhur, berbagai kesenian yang tumbuh di wilayah ini terus menabuh harapan—bahwa budaya Jawa akan tetap lestari, hidup, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Komentar atas Semangat Ibu-Ibu Muda Lestarikan Budaya, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” Bergema dari Desa Puyung
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Semangat Ibu-Ibu Muda Lestarikan Budaya, Karawitan Putri “Mugi Rahayu” Bergema dari Desa Puyung
- Simbol Kesejahteraan di Gerbang Dusun: Membedah Filosofi Gapura Patung Kambing Desa Puyung
- Posbindu Desa Puyung Aktif Pantau Kesehatan Warga, Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular
- Gema Takbir Menggema, Malam Idulfitri di Desa Puyung Penuh Khidmat dan Kebersamaan
- “1 Syawal 1447 H Jatuh Sabtu, 21 Maret 2026, Warga Desa Puyung Sambut Lebaran Serentak”
- Suasana Akhir Ramadhan di Puyung: Kerja Bakti hingga Genduri Riayan Warnai Desa
- Tradisi Maleman 29 Warga Desa Puyung, Ngalap Berkah Lailatul Qadar ing Pungkasan Ramadhan

















