Lumpuhnya Ekonomi "Bank Hidup": Harga Kambing di Desa Puyung Tak Kunjung Pulih

Wina Purwanto 12 Februari 2026 08:28:04 WIB

TRENGGALEK – Raut lesu terpancar dari wajah para peternak di Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Sudah hampir satu tahun lamanya, denyut nadi perekonomian warga yang bergantung pada sektor peternakan kambing seolah berhenti berdetak kencang. Harga jual kambing di tingkat peternak terus merosot dan tak kunjung menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang signifikan.

Bagi mayoritas warga Desa Puyung, beternak kambing bukanlah sekadar hobi sampingan. Di sela-sela kesibukan mengolah lahan pertanian, kambing dianggap sebagai "bank hidup" atau aset likuid yang bisa dicairkan kapan saja saat kebutuhan mendesak datang. Namun, ketika "tabungan" tersebut nilainya anjlok di pasaran, ketahanan ekonomi warga pun mulai goyah.

Dilema Peternak: Biaya Perawatan vs Harga Jual

Kondisi harga yang rendah ini telah bertahan selama hampir dua belas bulan. Warga mengeluhkan ketimpangan antara biaya perawatan dan tenaga yang dikeluarkan dengan hasil penjualan yang didapat.

"Memelihara kambing itu butuh waktu dan tenaga ekstra untuk mencari pakan setiap hari. Tapi saat mau dijual, harganya sangat murah, jauh dari harapan. Kami bingung, kalau tidak dijual kami butuh uang, kalau dijual rasanya sangat rugi," ungkap salah satu peternak setempat.

Rendahnya harga ini berdampak domino pada daya beli masyarakat desa. Mengingat sebagian besar warga Desa Puyung adalah petani yang juga merangkap sebagai peternak, sektor peternakan merupakan tumpuan utama untuk menutup biaya pendidikan anak, perbaikan rumah, hingga kebutuhan harian yang tidak terkaver oleh hasil tani.

Menatap Ramadhan dan Idul Fitri dengan Cemas

Keresahan warga semakin memuncak seiring dengan semakin dekatnya bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara tradisi, momen ini seharusnya menjadi masa panen bagi peternak karena permintaan pasar yang biasanya melonjak. Namun, dengan tren harga yang stagnan di angka rendah selama setahun terakhir, muncul kekhawatiran besar bahwa kenaikan harga yang diharapkan tidak akan terjadi.

Kebutuhan pokok menjelang lebaran dipastikan akan merangkak naik. Warga Desa Puyung kini terjepit di antara dua kondisi sulit: biaya hidup yang semakin tinggi dan sumber pendapatan utama yang tengah lesu.

Harapan Akan Pemulihan Ekonomi

Masyarakat Desa Puyung sangat berharap ada intervensi atau solusi dari pihak terkait, baik melalui perbaikan rantai distribusi maupun akses pasar yang lebih luas. Mereka merindukan masa-masa di mana harga kambing bisa kompetitif, sehingga kerja keras mereka merumput setiap hari terbayar dengan layak.

"Harapan kami hanya satu, semoga keadaan ini cepat berlalu. Kami ingin di bulan Ramadhan nanti harga kembali stabil dan membaik, supaya kami bisa memenuhi kebutuhan hari raya dan sekolah anak-anak dengan tenang," harap warga.

Kini, warga hanya bisa menunggu dan berdoa agar badai ekonomi di sektor peternakan ini segera usai, mengembalikan senyum di wajah para petani dan peternak di lereng perbukitan Pule.

Fenomena Regional: Lesunya Pasar Ternak di Seluruh Trenggalek

Ternyata, awan mendung yang menyelimuti sektor peternakan di Desa Puyung bukanlah kasus terisolasi. Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa kondisi harga kambing yang rendah ini telah menjadi fenomena regional yang melanda hampir seluruh wilayah di Kecamatan Pule. Bahkan, lesunya transaksi ternak ini juga dirasakan merata di seluruh pelosok Kabupaten Trenggalek hingga merembet ke kabupaten tetangga di sekitarnya.

Di pasar-pasar hewan besar di Trenggalek, jumlah pasokan kambing dari peternak lokal tampak melimpah, namun tidak sebanding dengan serapan pembeli atau pedagang besar (belantik). Hal ini menciptakan kondisi oversupply yang memaksa harga tetap berada di titik nadir selama berbulan-bulan.

"Ini bukan hanya masalah warga Desa Puyung saja. Teman-teman peternak di kecamatan lain pun mengeluhkan hal yang sama. Pasar hewan sepi peminat, dan kalaupun ada transaksi, harganya jatuh sekali dibandingkan dua tahun lalu," ujar seorang pedagang ternak lintas wilayah.

Kondisi yang merata ini menandakan adanya tantangan ekonomi makro yang serius di tingkat daerah. Mengingat wilayah Trenggalek dan sekitarnya merupakan salah satu lumbung ternak kambing di Jawa Timur, ketidakstabilan harga ini menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut. Warga kini hanya bisa saling menguatkan sembari menanti momentum pemulihan pasar yang diharapkan datang bersamaan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat di musim libur hari raya mendatang.

Komentar atas Lumpuhnya Ekonomi "Bank Hidup": Harga Kambing di Desa Puyung Tak Kunjung Pulih

Wilma 12 Februari 2026 21:15:52 WIB
Yen murah nyelang mbeleh wedus Dewe gawe lawuhan.
Agus 12 Februari 2026 11:42:33 WIB
Benar sekali pak, bahkan hari ini pasaran Kliwon Desa Sidomulyo harga kambing murah sekali

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar