ASA DI BALIK UMBI: PERJUANGAN PETANI PUYUNG MENJEMPUT KEJAYAAN PORANG

Wina Purwanto 10 Februari 2026 17:52:41 WIB

Sang Porang

Di bawah naungan langit yang membiaskan cahaya perak, di mana pepohonan tinggi berdiri sebagai penjaga sunyi, terbentanglah hamparan hijau yang menakjubkan. Ia adalah Amorphophallus muelleri, atau yang lebih akrab kita sebut sebagai Porang. Sejauh mata memandang, dedaunannya yang menjari lebar tampak seperti ribuan tangan yang sedang menadah doa dari langit, menangkap sisa-sisa embun pagi dan kehangatan mentari yang menyelinap di sela ranting.

Porang bukanlah tanaman yang pongah. Ia tumbuh rendah, membumi, menyatu dengan napas tanah yang lembap. Batangnya yang bercorak unik—serupa kulit ular yang artistik—berdiri tegak dengan kesabaran seorang pertapa. Di balik ketenangannya, ia sedang menenun keajaiban di dalam kegelapan tanah. Ia menyimpan seluruh energinya, mengumpulkan sari-sari bumi untuk diubah menjadi umbi emas, sebuah harta karun yang kelak akan melintasi samudra demi memberi manfaat bagi dunia.

Lihatlah bagaimana ia menari dalam desiran angin hutan. Warna hijaunya begitu dalam, memberikan keteduhan bagi mata yang lelah. Ia adalah simbol kegigihan; ia tak butuh sorotan cahaya yang terik, karena dalam naungan dan kesunyianlah ia justru menemukan kekuatan untuk tumbuh paling hebat. Porang mengajarkan kita tentang filosofi "isi": bahwa kemuliaan yang sejati seringkali tidak terletak pada apa yang tampak di permukaan, melainkan pada apa yang kita simpan dan kembangkan di dalam relung jiwa yang paling dalam.

Ketika musim berganti dan ia harus luruh, ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya beristirahat, membiarkan dirinya tertidur dalam pelukan tanah, hanya untuk bangkit kembali dengan semangat yang lebih kuat di musim berikutnya. Ia adalah napas bagi para petani, harapan bagi meja-meja makan di negeri jauh, dan saksi bisu betapa kaya dan baiknya alam pertiwi kepada kita semua.

Porang dan Puyung

Di balik rimbunnya perbukitan Kecamatan Pule, tepatnya di Desa Puyung, sebuah revolusi pertanian sedang berlangsung dalam sunyi. Hamparan tanaman dengan daun hijau lebar berbintik khas—yang dikenal masyarakat sebagai Porang (Amorphophallus muelleri)—kini memenuhi sebagian lahan warga, menggantikan komoditas palawija tradisional yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan.

Bagi warga Desa Puyung, porang bukan sekadar tanaman liar yang dulu diabaikan. Kini, tanaman umbi-umbian ini dijuluki sebagai "Emas Biru", sebuah simbol harapan baru untuk mengangkat derajat ekonomi keluarga di salah satu wilayah dataran tinggi Kabupaten Trenggalek tersebut.

Keunggulan Geografis Desa Puyung

Secara geografis, Desa Puyung memiliki karakteristik tanah dan iklim yang sangat mendukung pertumbuhan porang. Berada di ketinggian yang cukup dengan naungan pohon-pohon tegakan yang rindang, lahan di sini menjadi rumah ideal bagi porang untuk berkembang maksimal.

Para petani di Desa Puyung telah belajar secara otodidak maupun melalui kelompok tani tentang bagaimana cara budidaya yang benar. Mereka beralih dari sekadar memanen porang hutan menjadi budidaya terintegrasi, mulai dari penggunaan bibit katak (bulbil) hingga pengolahan tanah yang lebih modern.

Harapan di Tengah Fluktuasi Harga

Meski sempat mengalami pasang surut harga dalam beberapa tahun terakhir, semangat petani di Desa Puyung tidak luntur. Harapan mereka tetap membumbung tinggi, didasari oleh beberapa poin krusial:

Hilirisasi Industri: Petani berharap adanya dukungan pemerintah untuk menciptakan industri pengolahan setengah jadi (seperti chip atau tepung) di tingkat lokal, sehingga nilai jual tidak hanya bergantung pada tengkulak umbi basah.

Akses Ekspor: Dengan kualitas porang Pule yang dikenal memiliki kadar glukomanan tinggi, warga memimpikan jalur distribusi yang lebih pendek menuju pasar internasional, seperti Jepang dan Tiongkok.

Ketahanan Pangan: Porang dipandang sebagai komoditas masa depan. Selain untuk industri kosmetik dan lem, potensi porang sebagai pengganti beras (shirataki) menjadi alasan mengapa komoditas ini dianggap tidak akan pernah mati.

Suara dari Ladang Petani

"Kami tidak hanya menanam untuk hari ini," ujar salah satu petani setempat sambil menunjukkan tunas-tunas porang yang mulai menyembul dari tanah. "Kami menanam untuk sekolah anak-anak, untuk masa depan Desa Puyung agar tidak lagi dipandang sebelah mata."

Kini, pemandangan hijau di Desa Puyung bukan sekadar pemandangan alam biasa. Ia adalah hamparan investasi yang sedang bertumbuh. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam hal pendampingan teknis dan stabilitas harga menjadi kunci utama agar "Emas Biru" ini benar-benar membawa kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat Pule.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar