Sambut Ramadan, Warga Desa Puyung Gelar Tradisi "Geren Kubur" Serentak
Wina Purwanto 09 Februari 2026 04:49:28 WIB
TRENGGALEK – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari, nuansa kekeluargaan dan gotong royong kian kental terasa di wilayah Kabupaten Trenggalek. Salah satu pemandangan mencolok terlihat di Desa Puyung, Kecamatan Pule, di mana ratusan warga turun ke jalan-jalan area pemakaman untuk melaksanakan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan "Geren Kubur".
Tradisi ini bukan sekadar membersihkan rumput liar, melainkan sebuah simbol persiapan batin warga dalam menyambut bulan yang penuh ampunan. Berdasarkan pantauan pada Minggu, 8 Februari 2026, kegiatan ini berlangsung serentak di hampir seluruh lokasi pemakaman umum yang tersebar di wilayah Desa Puyung.
Instruksi Langsung dan Gotong Royong Dusun
Kegiatan masif ini merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Kepala Desa Puyung, Budiono. Melalui koordinasi dengan para Kepala Dusun (Kasun) di masing-masing wilayah, masyarakat bergerak bersama sejak pagi hari dengan membawa berbagai peralatan kebersihan seperti sabit, cangkul, hingga sapu lidi.
Budiono menegaskan bahwa kebersihan lingkungan makam adalah tanggung jawab bersama, terlebih Desa Puyung dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai leluhur. Dengan kondisi makam yang bersih dan rapi, diharapkan warga dapat menjalankan rangkaian ibadah menjelang Ramadan dengan lebih khusyuk dan nyaman.
Memudahkan Tradisi Ziarah dan "Megengan"
Pelaksanaan "Geren Kubur" ini memiliki tujuan utama untuk memfasilitasi warga dalam menjalankan tradisi Ziarah Makam Leluhur atau yang sering disebut nyekar. Tradisi ini biasanya mencapai puncaknya menjelang awal Ramadan, berbarengan dengan tradisi Megengan yang menjadi ciri khas warga di Bumi Jogo Tirto dan sekitarnya.
"Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempermudah warga yang akan melaksanakan ziarah ke makam sanak keluarga dan leluhur. Jika makam bersih, prosesi doa dan tabur bunga akan lebih nyaman," ujar salah satu warga di sela-sela kegiatannya.
Makna Filosofis "Sucikan Hati, Sucikan Diri"
Sejalan dengan pesan dalam poster persiapan Ramadan yang menekankan pentingnya "Sucikan hati, sucikan diri untuk menyambut datangnya bulan suci", tradisi di Desa Puyung ini menjadi manifestasi nyata dari pesan tersebut. Membersihkan tempat peristirahatan terakhir para pendahulu dianggap sebagai bentuk pembersihan diri dari sifat sombong dan pengingat akan hari akhir sebelum memasuki bulan puasa.
Hingga berita ini diturunkan, kegiatan gotong royong masih terus berlangsung di beberapa titik dusun. Semangat kebersamaan ini membuktikan bahwa tradisi lokal tetap terjaga kuat di tengah modernitas, menjadikan Desa Puyung siap menyambut Ramadan 2026 dengan hati yang bersih dan lingkungan yang asri.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Sambut Ramadan, Warga Desa Puyung Gelar Tradisi "Geren Kubur" Serentak
- Infografis APBDes Desa Puyung Tahun Anggaran 2026.
- Cepat Tanggap, Camat Pule Serahkan Bantuan untuk Korban Longsor Susulan di Dusun Sendang
- Guncangan Gempa M 5,8 Pacitan Kejutkan Warga Desa Puyung, Warga Berhamburan Saat Terlelap
- Desa Puyung menyimpan memori kolektif yang berkelindan antara mitos perjuangan dan kekayaan alam
- Warga RT 11 RW 06 Dusun Ponggok Gelar Kerja Bakti Bersihkan Parit dan Jalan Desa
- Tak Mau Terisolir, Warga Dusun Sendang Trenggalek Bangun Kembali Jembatan Darurat Secara Swadaya
















