Menjemput Takdir di Pucuk Ruyung: Menelusuri Jejak Pohon Legenda di Desa Puyung
Wina Purwanto 11 Februari 2026 05:22:34 WIB
Sang Ibu dari Rimba, Hikayat Pohon Aren yang Tak Pernah Ingkar Janji.
Di sela rimbunnya belantara yang masih menyimpan embun pagi, berdiri tegak sesosok penjaga yang tak pernah lelah bersolek dengan kesederhanaan. Ia adalah Pohon Aren (Arenga pinnata), sang raksasa berambut ijuk yang tumbuh bukan sekadar untuk menjulang, melainkan untuk memberi kehidupan bagi setiap jengkal tanah yang ia pijak.
Mahkota Hijau di Langit Kesunyian
Menatap tajuknya yang rimbun, kita seakan melihat tarian jemari hijau yang sedang merayu angin. Daun-daunnya yang panjang dan kokoh melengkung anggun, menciptakan kanopi yang menjadi peneduh bagi semesta kecil di bawahnya. Batangnya yang gelap, terbalut oleh serat ijuk yang legam, menyimpan misteri tentang ketangguhan—sebuah tameng alami yang melindunginya dari amukan zaman dan cuaca.
Nira: Tetesan Air Mata Kehidupan
Dari jantungnya yang dalam, aren mempersembahkan harta yang paling murni: nira. Seperti air mata kebahagiaan yang menetes perlahan ke dalam bumbung bambu, cairan bening ini adalah napas bagi ekonomi kerakyatan. Ia berubah menjadi gula merah yang manisnya melintasi generasi, atau menjadi cuka yang memberi rasa pada hidangan manusia. Di setiap tetesannya, ada keringat penyadap yang berpadu dengan kemurahan hati alam yang tak bertepi.
Kesetiaan dalam Setiap Bagian
Aren adalah perlambang pengabdian tanpa sisa. Tak ada bagian darinya yang terbuang sia-sia ke bumi:
Ijuknya menjadi atap yang melindungi rumah dari hujan dan panas.
Lidinya merangkai kebersihan dalam genggaman sapu.
Buahnya (Kolang-kaling), butiran putih bak mutiara, menjadi penawar dahaga di kala senja.
Akarnya mencengkeram bumi dengan erat, menjadi pahlawan sunyi yang menjaga cadangan air dan mencegah luruhnya tanah (erosi).
Simfoni yang Terancam Sunyi
Namun, di balik kemegahannya, pohon aren kini kerap berdiri dalam kesendirian. Keberadaannya mulai terdesak oleh deru modernisasi dan tanaman monokultur yang lebih "menjanjikan." Padahal, kehilangan sebatang aren berarti kehilangan satu pabrik air alami dan satu sumber kearifan lokal yang telah diwariskan leluhur sejak berabad-abad silam.
Pohon aren tidak butuh dipuja dengan kata-kata, ia hanya butuh ruang untuk terus tumbuh. Sebab, selama aren masih melambai ditiup angin, selama itu pula napas bumi akan tetap terjaga dalam manisnya nira dan kokohnya ijuk yang melegenda.
Pohon Nira di Desa Puyung
Di balik kabut yang kerap menyelimuti perbukitan barat Kabupaten Trenggalek, tersimpan sebuah hikayat yang kian hari kian sunyi. Desa Puyung, sebuah wilayah yang secara geografis terisolasi oleh punggung-punggung bukit yang terjal, kini sedang berjuang melawan lupa. Identitas desa ini terikat erat pada sebatang pohon yang oleh warga lokal disebut Pohon Ruyung atau Aren (Arenga pinnata), yang keberadaannya kini mulai langka dan sulit ditemui.
Akar Sejarah: Dari "Puh-Yung" Menjadi Nama Desa
Konon, nama "Puyung" bukanlah sekadar rangkaian huruf tanpa makna. Menurut sesepuh desa, nama tersebut berasal dari istilah "Puh-Yung", yang merujuk pada sebuah profesi kuno yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat saat Kademangan ini pertama kali berdiri.
Puh-Yung adalah sebutan bagi para pengolah hasil hutan, khususnya mereka yang menggantungkan hidup pada pohon aren—mulai dari menyadap nira (deres), mengolah kolang-kaling, hingga memanfatkan ijuknya. Seiring berjalannya waktu, pengucapan tersebut mengalami pergeseran fonetik menjadi Puyung, sebuah nama yang kini abadi sebagai identitas administratif, namun kian asing dari aktivitas keseharian warganya.
Dilema Sang Legenda: Usia dan Ruang
Meski memiliki nilai sejarah yang sakral, Pohon Ruyung kini berada di ambang kepunahan lokal. Ada dua alasan utama yang membuat warga enggan kembali menanam pohon ini:
Investasi Waktu yang Terlalu Lama: Pohon aren bukanlah tanaman yang memberikan hasil instan. Butuh waktu belasan hingga puluhan tahun dari masa tanam hingga pohon siap disadap. Di era ekonomi yang menuntut perputaran modal cepat, masa tunggu yang lama ini membuat warga lebih memilih menanam tanaman musiman atau kayu-kayuan yang lebih cepat laku di pasaran.
Sifat Fisik yang Dominan: Pohon aren dewasa dikenal sangat rindang dan memiliki tajuk yang besar. Bagi petani dengan lahan terbatas, rimbunnya daun aren dianggap sebagai "ancaman" bagi tanaman lain di bawahnya karena menutup sinar matahari. Akibatnya, aren seringkali ditebang demi memberi ruang bagi komoditas lain.
Emas Hijau yang Terabaikan
Sangat ironis memang, mengingat secara ekonomi, pohon aren sebenarnya adalah "emas hijau". Mulai dari akar hingga pucuk daun memiliki nilai jual: nira yang bisa diolah menjadi gula merah berkualitas tinggi, ijuk untuk kerajinan, hingga pati sagu dari batangnya. Namun, potensi ekonomi ini kalah pamor oleh kepraktisan zaman.
"Dulu, Puh-Yung adalah kebanggaan. Sekarang, mencari pemuda yang mau memanjat pohon aren untuk menyadap nira saja sudah sulit sekali," ujar salah satu warga yang masih setia merawat beberapa batang pohon ruyung di sudut kebunnya.
Asa di Balik Kesetiaan
Meski dihimpit zaman, secercah harapan masih ada. Sebagian kecil warga Desa Puyung tetap memegang teguh warisan leluhur. Mereka percaya bahwa merawat pohon ruyung adalah cara menjaga "ruh" Desa Puyung itu sendiri. Bagi mereka, menanam aren bukan sekadar soal hitung-hitungan untung rugi, melainkan bentuk penghormatan kepada sejarah Kademangan yang telah memberi mereka tempat bernaung.
Kini, di tengah arus modernisasi, Desa Puyung berdiri di persimpangan jalan. Apakah Pohon Ruyung hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur tentang asal-usul sebuah nama, ataukah ia akan kembali tegak berdiri sebagai simbol kedaulatan ekonomi masyarakat perbukitan Trenggalek? Waktu yang akan menjawab, seiring dengan makin jarangnya suara derit bambu para penyadap nira di keheningan bukit barat.
Komentar atas Menjemput Takdir di Pucuk Ruyung: Menelusuri Jejak Pohon Legenda di Desa Puyung
bisa jadi bahan brown sugar ini pak
Boleh nih utk dikembangkan lagi sebagai icon sumber pendapatan tetap. Cuman kalo bisa dibikin yg Genjah jadi lebih mempermudah petani atau warga untuk memanen...
Sayang pohon aren yg semakin punah Karana ulah blatik
Sayang pohon aren yg semakin punah Karana ulah blatik
Sayang pohon aren semakin sedikit.
Tolong kedepan tulis juga narasi tentang Rumput Timpuh Iyung yan konon Rumput ini Juga bersejarah dalam penamaan Desa Puyung itu sendiri.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Kirab Seribu Apem Semarakkan SD Negeri 2 Puyung (SEDAYU), Perkuat Kebersamaan .
- Lumpuhnya Ekonomi "Bank Hidup": Harga Kambing di Desa Puyung Tak Kunjung Pulih
- Menjemput Takdir di Pucuk Ruyung: Menelusuri Jejak Pohon Legenda di Desa Puyung
- ASA DI BALIK UMBI: PERJUANGAN PETANI PUYUNG MENJEMPUT KEJAYAAN PORANG
- Tingkatkan Mobilitas Warga, Pemdes Puyung Tuntaskan Rabat Jalan Dusun Krajan Senilai Rp60 Juta
- Sambut Ramadan, Warga Desa Puyung Gelar Tradisi "Geren Kubur" Serentak
- Infografis APBDes Desa Puyung Tahun Anggaran 2026.
















