Ramadhan Berbalut Hujan di Desa Puyung, Warga Bersyukur Sekaligus Waspada
Wina Purwanto 26 Februari 2026 04:39:58 WIB
PUYUNG-Ramadhan tahun ini menghadirkan nuansa yang berbeda bagi masyarakat Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Kabupaten Trenggalek. Sejak hari pertama puasa hingga memasuki hari ke-8, hampir setiap malam wilayah perdesaan pegunungan ini diguyur hujan. Rintik yang turun perlahan, terkadang bertahan hingga menjelang waktu sahur, menjadi irama tersendiri dalam perjalanan ibadah Ramadhan warga.
Di satu sisi, masyarakat memanjatkan rasa syukur atas nikmat air yang diturunkan Allah SWT. Hujan membawa kesejukan bagi ladang dan persawahan, mengisi kembali sumber-sumber air, serta menjaga kesuburan tanah perbukitan yang menjadi penopang kehidupan warga. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, kabut tipis kerap turun menyelimuti kampung yang dikenal sebagai “negeri atas awan”.
Namun di balik rasa syukur itu, terselip pula kekhawatiran. Secara geografis, Desa Puyung berada di wilayah perbukitan dengan kontur tanah yang naik turun. Banyak rumah penduduk berdiri berdekatan dengan tebing tinggi atau dalam istilah lokal disebut gampengan. Kondisi ini membuat warga harus ekstra waspada terhadap potensi longsor, terlebih saat hujan turun berturut-turut hampir setiap malam. Tanah yang terus-menerus basah dikhawatirkan menjadi labil, apalagi di beberapa titik terdapat tebing curam tepat di belakang maupun samping rumah warga.
Kemarin, salah satu rumah warga di Dusun Sendang dilaporkan tertimpa material longsor dari tebing di belakang rumahnya. Tanah yang jenuh oleh air akhirnya ambrol dan menimpa bagian bangunan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kejadian itu menjadi pengingat nyata bahwa ancaman longsor selalu mengintai ketika hujan turun terus-menerus.
Kekhawatiran juga merambah ke sektor pertanian. Curah hujan malam hari yang cukup rutin berdampak pada meningkatnya potensi hama, khususnya tikus yang kerap menyerang tanaman padi dan jagung. Lahan pertanian yang lembap dan kondisi cuaca yang mendukung membuat pergerakan hama semakin sulit dikendalikan. kondisi tanah yang terlalu lembap akibat curah hujan tinggi juga berdampak kurang baik bagi berbagai komoditas pertanian lainnya. Tanaman seperti porang, jahe, kunyit, serta berbagai jenis empon-empon sangat rentan terhadap pembusukan akar dan umbi ketika tanah tergenang atau terlalu basah dalam waktu lama.
Petani mulai mengkhawatirkan munculnya penyakit tanaman akibat jamur dan bakteri yang berkembang di kondisi lembap. Jika tidak segera ditangani, tanaman bisa menguning, layu, bahkan gagal panen. Padahal, komoditas seperti porang dan tanaman rimpang lainnya menjadi salah satu penopang ekonomi warga di wilayah perbukitan tersebut.
Seperti yang terjadi pada Kamis malam, 26 Februari 2026, hujan kembali turun sesaat setelah jamaah menyelesaikan salat Tarawih di masjid-masjid desa. Rintiknya tidak terlalu deras, namun turun merata dan bertahan lama. Hingga waktu imsyak menjelang Subuh, hujan belum juga reda. Angin sepoi-sepoi yang menyertainya menambah dinginnya suasana malam di perbukitan Puyung. Jalan-jalan desa tampak basah mengilap diterpa cahaya lampu rumah dan masjid, sementara suara gemericik air menjadi latar alami bagi warga yang bersiap menyantap sahur.
Meski demikian, aktivitas ibadah tetap berjalan khidmat. Warga tetap berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan Tarawih, membawa payung atau mengenakan jas hujan sederhana. Anak-anak dan remaja pun tetap semangat mengikuti kegiatan tadarus, meski harus melintasi jalan desa yang licin.
Ramadhan kali ini benar-benar menjadi momentum ujian sekaligus penguatan iman bagi masyarakat Desa Puyung. Di tengah guyuran hujan yang hampir hadir setiap malam, warga belajar menyeimbangkan rasa syukur atas berkah air yang melimpah dengan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Kebersamaan, gotong royong, dan doa menjadi kunci agar Ramadhan tetap berjalan aman, penuh keberkahan, serta terhindar dari musibah yang tidak diinginkan.
Hujan boleh turun membasahi bumi perbukitan Puyung, tetapi harapan dan semangat warga untuk menjalani ibadah dengan khusyuk tetap menyala hingga menjelang fajar.
Komentar atas Ramadhan Berbalut Hujan di Desa Puyung, Warga Bersyukur Sekaligus Waspada
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Ramadhan Berbalut Hujan di Desa Puyung, Warga Bersyukur Sekaligus Waspada
- RT 11 RW 06 Jadi Cikal Bakal Dusun Ponggok, Pembangunan Jalan Poros Terlaksana Tahun 2025
- Belik, Sumber Penghidupan Warga Desa Puyung yang Kini Kian Sunyi
- Tebing Longsor Timpa Rumah Warga di Dusun Sendang, Tembok Bagian Tengah Ambrol
- PAGI YANG BERSARUNG KABUT, DESA PUYUNG “NEGERI ATAS AWAN” DI TRENGGALEK
- Rabat Jalan RT 20 RW 10 Dusun Sendang Desa Puyung Tuntas Dikerjakan Pertengahan Tahun 2025 Kemarin
- Menjaga Nyala Api Tradisi: Mengapa Warga Desa Puyung Masih Setia pada 'Pawon'



















