Geliat "Emas Hitam" di Desa Puyung: Harga Stabil, Masyarakat Mulai Berburu Bibit Katak Super
Wina Purwanto 12 Mei 2026 08:27:08 WIB
PUYUNG – Tanaman porang (Amorphophallus muelleri) tampaknya kembali menjadi primadona bagi sektor pertanian di wilayah Desa Puyung dan sekitarnya. Setelah sempat mengalami fluktuasi harga beberapa tahun silam, tahun ini menjadi momentum titik balik yang membawa angin segar bagi para petani lokal. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga umbi porang produksi petani saat ini cenderung stabil di angka Rp11.500 per kilogram, sebuah nilai yang dinilai cukup menjanjikan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi desa.
Optimisme di Musim Mendatang
Stabilitas harga ini memicu gelombang optimisme baru. Banyak pihak memprediksi bahwa pada musim tanam mendatang, jumlah lahan yang dikonversi menjadi kebun porang akan meningkat signifikan. Tanaman yang dulunya dianggap sebagai tumbuhan liar di bawah tegakan pohon ini, kini telah bertransformasi menjadi komoditas unggulan yang dibudidayakan secara intensif oleh masyarakat.
Kondisi tanah dan iklim di Desa Puyung dinilai sangat mendukung pertumbuhan porang. Hal ini membuat masyarakat yakin bahwa investasi waktu dan tenaga pada tanaman ini akan membuahkan hasil maksimal, terutama dengan adanya kepastian harga di pasar ekspor yang terus membaik.
Pasar Bibit Mulai Memanas
Indikator paling nyata dari lonjakan minat masyarakat ini adalah mulai maraknya aktivitas jual beli bibit di pasar-pasar lokal maupun transaksi antar-petani. Desa Puyung kini diramaikan dengan hilir mudik pengepul dan penyedia bibit yang mulai kebanjiran pesanan.
Salah satu yang paling diburu adalah bibit katak (bulbil) super. Katak merupakan bintil cokelat kehitaman yang muncul pada pangkal daun porang dan berfungsi sebagai benih vegetatif. Karena kepraktisannya dan persentase tumbuh yang tinggi, permintaan terhadap bibit ini melonjak drastis.
Bahkan, harga bibit katak super saat ini dilaporkan telah menembus angka Rp125.000 per kilogram, bahkan di beberapa pengepul besar harganya bisa lebih tinggi lagi tergantung pada kualitas dan ukuran butirannya. Harga bibit yang cukup tinggi ini tidak menyurutkan niat warga, justru dianggap sebagai investasi awal untuk meraup untung lebih besar saat panen raya tiba.
Karantina Umbi Mini dan Teknik "Anjang-Anjang"
Selain perburuan bibit katak super yang harganya kian melambung, geliat persiapan musim tanam di Desa Puyung juga terlihat dari kesibukan warga mengelola bibit mandiri. Saat ini, banyak petani yang mulai melakukan proses karantina terhadap bibit porang berupa umbi mini.
Fenomena ini menjadi strategi cerdas petani untuk menekan biaya modal. Umbi mini yang dipilih untuk dikarantinakan biasanya adalah hasil panen yang memiliki bobot di bawah 1 kilogram. Alih-alih menjualnya ke pabrik dengan harga umbi konsumsi, petani lebih memilih menyimpannya sebagai aset tanam untuk tahun depan. Hal ini dikarenakan umbi mini dianggap memiliki daya tahan dan kecepatan tumbuh yang lebih stabil dibandingkan bibit dari katak.
Proses Perawatan dan Istilah "Anjang-Anjang"
Proses pasca-panen bibit ini dilakukan dengan sangat teliti. Setelah umbi mini digali dari tanah, tahap pertama yang dilakukan petani adalah penjemuran. Penjemuran ini bertujuan untuk membuang kadar air berlebih pada kulit umbi guna mencegah munculnya jamur atau pembusukan selama masa penyimpanan (dormansi).
Setelah dirasa cukup kering, bibit-bibit tersebut tidak diletakkan sembarangan di lantai. Warga Desa Puyung menggunakan teknik penyimpanan tradisional yang disebut dengan "Anjang-Anjang". Anjang-anjang adalah rak-rak yang terbuat dari bambu atau kayu yang disusun bertingkat di dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang baik.
"Dengan ditaruh di anjang-anjang, bibit tidak bersentuhan langsung dengan tanah yang lembap. Udara bisa masuk dari sela-sela rak, sehingga bibit tetap sehat dan tunasnya akan muncul secara serempak saat musim penghujan tiba nanti," ujar salah satu petani setempat.
Kombinasi antara pembelian bibit katak super dan penyimpanan mandiri umbi mini ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Puyung sudah semakin edukatif dan mandiri dalam mengelola pertanian porang. Mereka tidak lagi sekadar menanam, tetapi sudah mulai memahami manajemen bibit yang baik untuk memastikan keberhasilan panen di masa depan.
Harapan Petani
Melihat tren positif ini, para petani berharap agar pemerintah daerah maupun pihak terkait terus memberikan pendampingan, terutama dalam hal pemupukan organik dan penanganan pasca-panen agar kualitas umbi porang dari Desa Puyung tetap memenuhi standar pabrik.
Dengan harga jual umbi yang stabil dan antusiasme pembibitan yang tinggi, Desa Puyung berpotensi menjadi sentra penghasil porang terbesar di wilayahnya, sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui optimalisasi lahan pertanian yang ada.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Geliat "Emas Hitam" di Desa Puyung: Harga Stabil, Masyarakat Mulai Berburu Bibit Katak Super
- Wujudkan Akses Layak, Warga RT 17 Dusun Sendang Gerakkan Swadaya Murni Cor Jalan
- Pemerintah Desa Puyung Ucapkan Selamat Hari Buruh Nasional 1 Mei 2026
- Wujudkan Desa Inklusif, Pemdes Puyung Gelar Pembinaan dan Penguatan bagi Penyandang Disabilitas
- Sinergi Desa Puyung Jamin Perlindungan Anak & Perempuan
- Strategi Desa Puyung Menghadapi Penurunan Anggaran Dana Desa Tahun 2026
- Harmoni dan Perjuangan: Menyelami Suka Duka Kehidupan di Jantung Pedesaan

















