Siklus Emas di Balik Dorman: Petani Desa Puyung Mulai Panen Porang
Wina Purwanto 10 April 2026 08:19:52 WIB
TRENGGALEK – Hamparan lahan pertanian di perbukitan Desa Puyung, Kecamatan Pule, mulai menampakkan warna kecokelatan. Daun-daun hijau yang biasanya tegak berdiri kini mulai melayu dan rebah ke tanah. Fenomena alam yang dikenal dengan istilah dorman ini bukanlah tanda kegagalan panen, melainkan "lonceng" awal bagi warga masyarakat Desa Puyung untuk memulai perburuan "emas cokelat" mereka: tanaman Porang (Amorphophallus muelleri).
Memasuki pertengahan tahun ini, sebagian besar tanaman porang milik warga Desa Puyung telah memasuki masa panen yang krusial. Uniknya, panen porang tidak dilakukan secara serampangan. Para petani di sini mengikuti ritme alam yang teratur, diawali dengan pengambilan Katak atau bulbil—umbi kecil yang tumbuh di ketiak daun—tepat saat batang tanaman mulai mengering dan memasuki fase istirahat (dorman).
Manajemen Benih: Strategi Berkelanjutan
Bagi warga Desa Puyung, katak bukan sekadar hasil sampingan. Ia adalah nyawa bagi musim tanam mendatang. Pengelolaan katak dilakukan dengan ketelitian tinggi melalui sistem klasifikasi ukuran.
Katak Super: Katak berukuran besar dan bernas akan dipisahkan secara khusus. Benih berkualitas unggul ini dipersiapkan untuk langsung ditanam pada lahan produksi di musim hujan berikutnya.
Katak Kecil: Untuk katak yang berukuran kecil, petani tidak langsung menanamnya di lahan utama. Katak-katak ini akan melalui proses penyemaian terlebih dahulu guna pembesaran benih.
Umbi Mini: Hasil dari semaian katak kecil ini nantinya akan menghasilkan umbi mini. Umbi inilah yang kemudian menjadi modal utama untuk ditanam kembali pada musim berikutnya demi mendapatkan umbi produksi yang berukuran jumbo.
Capaian Memuaskan dari Dusun Krajan
Potret keberhasilan panen tahun ini salah satunya terlihat di kediaman Yatino, seorang petani gigih asal RT 08 RW 04 Dusun Krajan, Desa Puyung. Di pelataran rumahnya, tumpukan umbi porang hasil penggalian tampak memenuhi karung-karung plastik dengan ukuran yang seragam dan sehat.
Yatino mengungkapkan bahwa hasil yang ia peroleh tahun ini merupakan buah dari ketelatenan merawat tanaman yang berasal dari bibit umbi mini.
"Panen kali ini adalah hasil dari tanaman yang awalnya berupa umbi mini dengan bobot hanya sekitar 1,8 ons. Berkat perawatan yang intensif, mulai dari pemupukan organik hingga pembersihan gulma yang rutin, hasilnya sangat memuaskan dan bobotnya meningkat berkali-kali lipat," tutur Yatino saat ditemui sembari memilah hasil panennya.
Prosesi Panen: Dari Katak hingga Umbi
Sesuai dengan kearifan lokal pertanian setempat, Yatino menjelaskan bahwa penggalian umbi tidak dilakukan secara terburu-buru. Setelah seluruh katak dipunguti, petani menunggu hingga batang tanaman benar-benar busuk dan lepas secara alami dari umbinya (dorman sempurna). Pada saat itulah, kandungan glukomanan dalam umbi berada pada titik tertinggi dan kadar airnya mulai menyusut, sehingga umbi lebih tahan lama untuk disimpan maupun didistribusikan.
Setelah dorman sempurna tercapai, barulah dilakukan proses penggalian tanah secara hati-hati agar kulit umbi tidak lecet. Seperti yang terlihat pada dokumentasi hasil panen Yatino, umbi-umbi porang yang dihasilkan tampak bersih dengan guratan akar yang kuat, menandakan nutrisi tanah di Desa Puyung masih sangat prima untuk mendukung pertumbuhan tanaman umbi-umbian.
Harapan Ekonomi Desa
Masa panen ini membawa angin segar bagi roda ekonomi di Desa Puyung. Dengan sistem manajemen benih mandiri (dari katak kembali ke umbi), biaya produksi petani dapat ditekan secara signifikan. Kemandirian benih inilah yang membuat warga Desa Puyung tetap bertahan dan optimis meski fluktuasi harga pasar kadang tidak menentu.
Kini, setelah keranjang-keranjang terisi penuh, para petani mulai bersiap memasuki tahap pasca-panen, sembari menyimpan harapan agar musim tanam berikutnya, katak-katak yang mereka kumpulkan hari ini dapat tumbuh menjadi umbi-umbi yang lebih besar dan membawa kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat desa.
Dinamika Harga dan Strategi Tumpang Sari Petani
Meski hasil panen secara kualitas tergolong memuaskan, para petani di Desa Puyung saat ini harus berhadapan dengan dinamika harga pasar yang fluktuatif. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga umbi porang di tingkat pengepul di wilayah Desa Puyung saat ini berada di kisaran Rp 11.200 per kilogram. Angka ini menunjukkan adanya sedikit penurunan jika dibandingkan dengan periode beberapa waktu yang lalu.
Namun, bagi sebagian besar warga Puyung, angka tersebut nyatanya tidak menyurutkan semangat panen. Mereka menganggap harga saat ini masih dalam kategori "hoki" atau membawa keberuntungan, terutama jika dibandingkan dengan ongkos produksi yang berhasil ditekan melalui penggunaan bibit mandiri dari hasil panen katak sebelumnya.
"Meskipun ada penurunan, harga sebelas ribuan itu bagi kami masih ada sisa hasil yang lumayan. Istilahnya masih 'hoki' untuk menutup kebutuhan dapur dan modal tanam lagi," ujar salah satu warga saat ditemui di sela kesibukan mengemas umbi ke dalam karung.
Pergeseran Pola Tanam: Diversifikasi adalah Kunci
Ada pemandangan yang berbeda jika membandingkan kondisi lahan di Desa Puyung saat ini dengan beberapa tahun silam. Jika dulu hampir seluruh jengkal tanah ditanami porang secara masif, kini pegiat porang di Desa Puyung cenderung lebih selektif dan bergerak dalam skala kecil hingga menengah.
Kini, petani tidak lagi menggantungkan nasib hanya pada satu komoditas saja. Kesadaran akan risiko pasar membuat warga mulai menerapkan sistem diversifikasi pertanian atau tumpang sari. Di sela-sela lahan mereka, kini tidak hanya ditemukan batang porang yang dorman, tetapi juga hamparan tanaman lain yang mulai menghijau.
Tanaman Rempah: Jahe emprit dan kunyit menjadi pilihan utama karena memiliki daya tahan yang kuat terhadap cuaca dan pasar yang cenderung stabil.
Palawija: Tanaman jagung mulai mendominasi beberapa petak lahan sebagai sumber pendapatan jangka pendek bagi petani.
Tanaman Pendukung: Beberapa warga juga tetap mempertahankan tanaman keras dan komoditas lokal lainnya sebagai sabuk pengaman ekonomi.
Langkah ini diambil warga sebagai bentuk ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Dengan tidak sepenuhnya menanam porang, para petani memiliki cadangan penghasilan dari komoditas lain saat harga salah satu tanaman sedang mengalami koreksi. Pergeseran pola pikir ini menunjukkan bahwa petani Desa Puyung semakin dewasa dalam membaca situasi pasar, mengutamakan keberlanjutan daripada sekadar mengikuti tren sesaat.
Dengan berakhirnya pengambilan katak dan mulainya penggalian umbi di musim ini, Desa Puyung kembali membuktikan bahwa kearifan lokal dalam bertani dan kemampuan beradaptasi dengan harga pasar adalah modal utama dalam menjaga stabilitas ekonomi di tingkat desa.
Komentar atas Siklus Emas di Balik Dorman: Petani Desa Puyung Mulai Panen Porang
Alhamdulillah semoga berkah
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Harga Jahe Menggoda, Tanaman Milik Warga Puyung Dicuri Malam-malam
- Siklus Emas di Balik Dorman: Petani Desa Puyung Mulai Panen Porang
- Posyandu Lansia Dusun Ponggok 2026: Lansia Antusias Ikuti Senam, Cek Kesehatan, dan Terima PMT
- Melebur dalam Maaf: Tradisi Halal Bihalal PPDI Pule untuk Memperkokoh Solidaritas
- Menanam Harapan dari Lereng Desa: Mengenal Lebih Dekat PAUD Darma Bakti Puyung
- Menyicipi Kesegaran Jangan Menir: Warisan Kuliner Desa Puyung yang Tak Lekang oleh Zaman
- “Tedak Sinten Tetap Lestari di Desa Puyung, Dari Kurungan hingga Ritual Belik Sarat Makna”



















