Nestapa Petani Singkong di Desa Puyung: Terjepit Harga Murah dan Serangan Hama Uret
Wina Purwanto 03 Juni 2026 04:45:16 WIB
PUYUNG TRENGGALEK – Pemandangan hamparan hijau kebun singkong yang luas dan subur kini mulai menjadi barang langka di Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Tanaman ketela pohon atau singkong, yang dulunya menjadi salah satu primadona dan penyangga ekonomi warga setempat, kini kian hari kian berkurang secara drastis. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam mengenai masa depan ketahanan pangan lokal di wilayah tersebut.
Dilema Harga: Kerja Keras yang Dihargai Murah
Faktor utama yang paling memukul semangat para petani untuk menanam singkong adalah anjloknya nilai jual di pasaran selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pengakuan sejumlah petani setempat, harga jual singkong hasil panen berada di tingkat yang sangat memprihatinkan, yakni hanya berkisar di angka Rp1.000 per kilogram. Bahkan, tidak jarang harga tersebut merosot hingga kurang dari seribu rupiah.
"Biaya perawatan, tenaga untuk menanam, hingga ongkos panen sudah tidak sebanding lagi dengan hasil yang didapat. Kalau harganya di bawah seribu rupiah per kilo, jangankan untung, untuk menutup modal pupuk dan tenaga saja kami sering nomok," ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya, mengenang masa-masa sulit saat masa panen tiba.
Rendahnya serapan pasar dan ketiadaan regulasi harga yang berpihak pada tingkat peternak/petani membuat komoditas ini perlahan tapi pasti mulai ditinggalkan. Singkong tidak lagi dianggap sebagai tanaman yang menjanjikan keuntungan, melainkan menjadi beban finansial tersendiri jika dikelola secara masif dalam bentuk perkebunan mandiri.
Serangan Hama Embug Uret: Musuh Dalam Selimut
Selain dihantam dari sisi ekonomi lewat perang harga yang tidak menguntungkan, para petani di Desa Puyung juga harus berhadapan dengan alam. Beberapa musim terakhir, sisa-sisa kejayaan tanaman singkong di desa ini digempur oleh serangan hama embug uret (larva kumbang) yang merusak akar dan umbi singkong di dalam tanah.
Serangan hama uret ini terbilang sangat fatal. Karena menyerang bagian bawah tanah, petani sering kali terlambat menyadari bahwa tanaman mereka sedang digerogoti. Akibatnya, tanaman singkong mendadak layu, mengering, dan membusuk sebelum sempat memasuki usia panen. Kombinasi antara harga yang murah dan risiko gagal panen akibat hama ini menjadi pukulan telak yang memaksa petani memutar otak demi menyambung hidup.
Pergeseran Pola Tanam: Dari Perkebunan Khusus Menjadi Tumpangsari
Akibat dua faktor krusial tersebut, lanskap pertanian di Desa Puyung kini mengalami transformasi besar. Kebun yang secara khusus atau monokultur ditanami singkong—seperti citra ideal perkebunan singkong komersial kini sudah sangat jarang, bahkan hampir mustahil untuk dijumpai lagi di sudut-sudut desa.
Sebagai gantinya, singkong kini hanya ditempatkan sebagai tanaman pelengkap atau sekunder. Warga Desa Puyung lebih banyak menanam singkong secara tumpangsari, disisipkan di antara tanaman perkebunan atau komoditas lain yang dinilai memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan stabil, seperti cengkeh, kapulaga, atau kayu sengon.
Pergeseran ini mengindikasikan bahwa singkong di Desa Puyung kini bukan lagi komoditas utama yang diandalkan untuk mendatangkan rupiah, melainkan sekadar tanaman pengisi lahan kosong atau untuk konsumsi rumah tangga harian dalam skala kecil. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi harga dari pemerintah maupun solusi konkret penanganan hama dari dinas pertanian terkait, bukan tidak mungkin keberadaan tanaman singkong di Kecamatan Pule akan benar-benar lenyap di masa mendatang.
Bertahan di Tengah Keterbatasan: Dari Kuliner Tradisional hingga Pakan Ternak
Meskipun luas lahannya terus menyusut dan tidak lagi menjadi komoditas utama, singkong tidak benar-benar hilang dari denyut nadi kehidupan warga Desa Puyung. Bagi masyarakat setempat, tanaman ini memiliki ikatan kultural dan fungsi sosiologis yang mendalam, terutama dalam menyiasati kebutuhan pangan mandiri dan keberlangsungan sektor peternakan domestik.
Untuk menyiasati harga jual mentah yang terlampau murah, sebagian petani memilih untuk tidak langsung menjual hasil panen mereka ke tengkulak. Mereka memilih untuk mengolahnya sendiri menjadi gaplek—singkong yang dikupas, dipotong, lalu dikeringkan di bawah terik matahari. Proses pengawetan tradisional ini membuat singkong memiliki daya simpan yang jauh lebih lama.
- Bahan Baku Nasi Thiwul: Gaplek yang sudah kering sempurna nantinya ditumbuk menjadi tepung untuk diolah menjadi thiwul. Nasi thiwul ini bukan sekadar kuliner tradisional biasa, melainkan makanan pokok alternatif yang kaya serat dan menjadi warisan turun-temurun warga pegunungan Trenggalek saat harga beras melambung tinggi.
- Tepung Tapioka Rumahan: Selain menjadi gaplek untuk thiwul, sebagian warga juga mengolah pati singkong menjadi tepung tapioka (tepung kanji) skala rumahan. Tepung serbaguna ini dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan dapur sendiri hingga bahan baku jajanan lokal.
Penyelamat Sektor Peternakan Komunal
Tidak hanya bermanfaat bagi isi piring pemiliknya, keberadaan tanaman singkong yang ditanam secara tumpangsari ini juga menjadi pilar penting bagi sektor peternakan di Desa Puyung. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas warga desa memelihara ternak kambing sebagai tabungan hidup mereka.
"Kalau harga singkong di pasar jatuh, ketela pohon ini justru jadi penyelamat di kandang. Kulit singkong dan daunnya sangat bagus untuk pakan hijau, sementara umbinya sering kami cacah kecil-kecil sebagai makanan tambahan atau komboran penguat untuk kambing," ungkap salah seorang peternak setempat.
Nutrisi tinggi yang terkandung dalam umbi dan daun singkong terbukti mampu mempercepat proses penggemukan ternak. Pola pemanfaatan mandiri ini membuat singkong di Desa Puyung mengalami pergeseran fungsi yang awalnya merupakan komoditas tangguh penggerak ekonomi pasar, kini bertahan sebagai sabuk pengaman ketahanan pangan keluarga dan pakan ternak di tingkat lokal.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Nestapa Petani Singkong di Desa Puyung: Terjepit Harga Murah dan Serangan Hama Uret
- Pemerintah Desa Puyung: "Pancasila Dasar Pengabdian dan Pelayanan Masyarakat"
- Transparansi Birokrasi: Pemerintah Desa Puyung Rilis SOTK Terbaru Demi Optimalkan Pelayanan Publik
- Pemerintah Desa Puyung Umumkan Libur Pelayanan Umum Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M
- Desa Puyung, Permata Pegunungan di Barat Trenggalek yang Menjaga Tradisi dan Semangat Gotong Royong
- Potensi Mentimun Polinasi, Komoditas Pertanian Baru yang Menjanjikan di Desa Puyung
- ​Menjelang Idul Adha 2026, Harga Kambing Jantan di Pasar Jajar dan Pasar Legi Mulai Merangkak Naik













