Porang Tetap Jadi Primadona di Desa Puyung: Harga Stabil di Tengah Penurunan Populasi
Wina Purwanto 25 April 2026 10:34:03 WIB
TRENGGALEK – Sempat menjadi primadona yang menghebohkan dunia pertanian beberapa tahun silam, tanaman porang rupanya masih memiliki taji di wilayah Kabupaten Trenggalek. Hingga hari ini, harga umbi porang di tingkat petani wilayah Desa Puyung, Kecamatan Pule, terpantau masih sangat menjanjikan dan stabil.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga panen porang di kalangan pengepul saat ini konsisten bertengger di kisaran Rp11.300 per kilogram. Angka ini dinilai cukup menggiurkan bagi para petani yang masih setia membudidayakan tanaman dengan nama latin Amorphophallus muelleri tersebut.
Kelangkaan Barang Jadi Pemicu Stabilitas Harga
Stabilitas harga yang cukup tinggi ini disinyalir kuat merupakan dampak dari hukum pasar yang berlaku. Berbeda dengan masa "demam porang" beberapa tahun lalu di mana pasokan melimpah ruah, saat ini persediaan barang di tingkat petani tidak sebanyak sebelumnya.
Para pengepul di wilayah Pule mengakui bahwa mereka harus lebih aktif berburu barang karena volume panen yang masuk ke gudang-gudang penampungan cenderung menurun. Minimnya stok di pasar global dan domestik membuat nilai tawar porang dari Desa Puyung tetap terjaga kuat.
Populasi Tanaman di Desa Puyung Merosot Tajam
Fenomena menarik terjadi di sentra penanaman Desa Puyung. Meskipun harga sedang berada di tren positif, populasi tanaman porang di wilayah ini justru mengalami penurunan drastis. Tercatat, jumlah tanaman porang di Desa Puyung berkurang sekitar 45 persen dibandingkan dengan masa kejayaan beberapa tahun lalu.
Penurunan populasi ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:
Trauma Harga: Sebagian petani sempat beralih ke komoditas lain akibat fluktuasi harga yang ekstrem pada musim-musim sebelumnya.
Biaya Perawatan: Fokus petani terbagi untuk mengelola lahan yang sebelumnya dipenuhi porang secara masif.
Seleksi Alamiah: Kini hanya petani yang benar-benar memiliki ketelatenan dan modal kuat yang sanggup bertahan, sehingga penanaman tidak lagi dilakukan secara serampangan oleh masyarakat luas.
Optimisme di Tengah Keterbatasan
Bagi petani yang bertahan, situasi ini bak oase di tengah padang pasir. Berkurangnya persaingan di tingkat lokal justru mendatangkan berkah tersendiri berupa harga yang lebih kompetitif.
"Dulu semua orang tanam porang sampai lahan penuh, harga memang sempat goyang karena barang terlalu banyak. Sekarang, meski tanamannya berkurang hampir separuh, hasilnya justru lebih terasa karena harganya stabil di atas sepuluh ribu rupiah," ujar salah satu warga setempat.
Kondisi di Desa Puyung ini menjadi potret nyata bahwa porang tetaplah tanaman fenomenal. Meski populasi tak sepadat dulu, nilai ekonominya tetap menjadi tumpuan bagi masyarakat di lereng perbukitan Kecamatan Pule, sekaligus membuktikan bahwa kualitas dan keberlanjutan pasokan lebih utama daripada sekadar tren sesaat.
Potensi Rebound: Gairah Budidaya Diprediksi Kembali Memuncak
Melihat tren harga yang begitu kokoh di angka Rp11.300, banyak pihak memprediksi bahwa kelesuan penanaman porang di Desa Puyung hanya bersifat sementara. Jika stabilitas harga ini mampu bertahan hingga akhir musim panen tahun ini, tidak menutup kemungkinan pada tahun depan akan terjadi lonjakan minat budidaya secara drastis.
Para petani yang sebelumnya sempat "tiarap" atau beralih ke komoditas lain kini mulai melirik kembali lahan-lahan mereka yang sempat terbengkalai. Aroma keuntungan yang nyata diprediksi akan memicu gelombang penanaman kembali (rebound) yang lebih masif.
"Harga di atas sepuluh ribu itu adalah magnet yang sangat kuat. Jika konsisten seperti ini, masyarakat yang kemarin sempat ragu pasti akan kembali mengolah lahan untuk porang. Fenomena ini bisa mengembalikan populasi tanaman yang sempat hilang 45 persen tersebut, bahkan mungkin lebih banyak lagi di musim tanam mendatang," ungkap salah satu pengamat pertanian lokal.
Kini, bola salju antusiasme mulai bergulir kembali. Dengan harga yang menjanjikan, porang di wilayah Kecamatan Pule diprediksi akan segera merebut kembali takhtanya sebagai komoditas unggulan yang paling diminati oleh masyarakat desa.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Porang Tetap Jadi Primadona di Desa Puyung: Harga Stabil di Tengah Penurunan Populasi
- Memperkuat Integritas dan Kapasitas: Camat Pule Gelar Pembinaan Aparatur dan Lembaga Desa Puyung
- Memperkuat Langkah Nyata Menuju Trenggalek Bebas TBC 2030 Bersama PKK Kabupaten Trenggalek
- Wujudkan Kelestarian Lingkungan, Dinas Kesehatan Trenggalek Donasikan 846 Bibit Pohon di Desa Puyung
- Kabut Tebal Selimuti Desa Puyung, Pule: Harmoni Kesunyian di Balik Pegunungan Trenggalek
- Nasi Thiwul, Pangan Tradisional Penopang Aktivitas Warga Desa Puyung
- Dilema Petani Kunyit di Desa Puyung: Tanah Subur Namun Harga Pasar Tak Terukur

















