Nasi Thiwul, Pangan Tradisional Penopang Aktivitas Warga Desa Puyung

Wina Purwanto 20 April 2026 17:58:47 WIB

Di tengah arus modernisasi pangan, masyarakat di Desa Puyung masih mempertahankan salah satu makanan tradisional yang kaya nilai sejarah dan manfaat, yakni nasi thiwul. Nasi berbahan dasar ubi kayu atau singkong yang dikeringkan (gaplek) ini menjadi sajian yang lumrah ditemui, terutama di wilayah pedesaan dan kawasan pegunungan sekitar Kecamatan Pule.

Thiwul dikenal sebagai alternatif pengganti nasi beras sejak zaman dahulu. Proses pembuatannya yang melalui pengeringan singkong hingga menjadi gaplek, kemudian ditumbuk dan dikukus, menjadikan makanan ini memiliki cita rasa khas yang sederhana namun mengenyangkan. Hingga kini, tradisi tersebut masih lestari di kalangan masyarakat setempat.

Dalam penyajiannya, nasi thiwul sangat cocok dipadukan dengan berbagai lauk pauk, terutama ikan laut yang dimasak pedas. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan tekstur thiwul yang sedikit kasar menghadirkan sensasi makan yang menggugah selera. Tak heran jika hidangan ini kerap menjadi favorit warga, baik untuk santapan sehari-hari maupun saat berkumpul bersama keluarga.

Selain cita rasanya yang khas, nasi thiwul juga dikenal memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Hal ini memberikan efek kenyang lebih lama dibandingkan nasi putih pada umumnya. Dengan manfaat tersebut, thiwul menjadi pilihan tepat bagi masyarakat yang memiliki aktivitas fisik tinggi.

Namun demikian, di balik manfaatnya sebagai sumber energi yang mengenyangkan, konsumsi nasi thiwul juga perlu diperhatikan bagi sebagian kalangan. Bagi masyarakat yang memiliki riwayat gangguan lambung seperti maag, mengonsumsi thiwul disarankan dengan porsi yang tidak berlebihan.

Hal ini disebabkan tekstur thiwul yang cenderung lebih kasar dibandingkan nasi putih, sehingga membutuhkan proses pencernaan yang lebih lama. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, kondisi ini berpotensi memicu meningkatnya asam lambung yang dapat menyebabkan rasa perih, kembung, hingga kambuhnya gejala maag.

Tenaga kesehatan setempat juga mengimbau agar penderita maag tetap bisa menikmati thiwul dengan cara yang lebih aman, seperti mengonsumsinya bersama lauk berkuah, sayuran, serta menghindari makanan pendamping yang terlalu pedas. Selain itu, mengatur pola makan yang teratur menjadi kunci agar manfaat thiwul tetap dapat dirasakan tanpa menimbulkan gangguan kesehatan.

Dengan pemahaman yang baik, nasi thiwul tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat masyarakat Desa Puyung, tanpa mengesampingkan aspek kesehatan bagi setiap individu.

Mayoritas warga Desa Puyung yang berprofesi sebagai petani dan peternak sangat terbantu dengan konsumsi makanan ini. Aktivitas di ladang dan mengurus ternak membutuhkan energi yang besar, sehingga thiwul menjadi sumber tenaga yang andal dan ekonomis.

Keberadaan nasi thiwul tidak hanya sebagai makanan pokok alternatif, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal dan ketahanan pangan masyarakat pedesaan. Di tengah gempuran makanan modern, thiwul tetap bertahan sebagai warisan budaya yang terus dijaga oleh warga Desa Puyung dan sekitarnya.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar