Dilema Petani Kunyit di Desa Puyung: Tanah Subur Namun Harga Pasar Tak Terukur
Wina Purwanto 18 April 2026 12:12:43 WIB
TRENGGALEK – Tersembunyi di balik perbukitan Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, Desa Puyung menyimpan potensi agraria yang luar biasa. Desa ini telah lama dikenal sebagai lumbung kunyit dengan kualitas "super". Di sini, hamparan hijau tanaman kunyit tumbuh subur di lereng-lereng bukit, membuktikan bahwa alam Puyung memang ditakdirkan untuk komoditas rempah ini.
Namun, di balik hijaunya dedaunan dan kuningnya rimpang yang melimpah, tersimpan sebuah ironi klasik yang menghantui para petani: fluktuasi harga yang tak menentu.
Tanah Berkah dengan Perawatan Sederhana
Salah satu keunikan Desa Puyung adalah karakteristik tanahnya yang sangat cocok untuk tanaman kunyit. Tanpa perlu perlakuan kimiawi yang rumit atau teknik pertanian modern yang mahal, kunyit di desa ini mampu menghasilkan rimpang yang besar, padat, dan memiliki warna kuning tua yang pekat—ciri khas kunyit berkualitas tinggi yang banyak dicari industri jamu dan kosmetik.
"Menanam kunyit di sini sebenarnya tidak sulit. Tanah kita sudah mendukung. Dengan perawatan sederhana saja, hasilnya sudah sangat bagus," ujar salah satu petani setempat. Kesuburan alami ini seharusnya menjadi modal utama bagi kemakmuran warga, namun kenyataan di lapangan seringkali berkata lain.
Rollercoaster Harga: Dari Puncak ke Jurang
Kondisi ekonomi petani kunyit di Puyung sangat bergantung pada grafik harga yang sulit ditebak. Sebagai gambaran, pada bulan Maret yang lalu, para petani sempat merasakan angin segar.
Harga Kunyit Rimpang: Sempat menyentuh angka Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogram.
Harga Dlujur/Kunyit Super: Bahkan mencapai level tertinggi di angka Rp 9.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut sempat memicu optimisme. Namun, kebahagiaan itu rupanya hanya sesaat. Belum berganti musim, harga kembali merosot tajam. Saat ini, harga kunyit rimpang di tingkat petani hanya dihargai sekitar Rp 2.750, sementara jenis super terjun bebas ke angka Rp 7.000.
"Harga kunyit itu seperti teka-teki. Bulan lalu kita senang karena harga naik, tapi sekarang sudah turun lagi. Ini yang membuat kita kadang ragu untuk melangkah lebih jauh," keluh petani lainnya.
Dilema Petani: Antara Potensi dan Keengganan
Ketidakpastian harga inilah yang menjadi penghambat utama bagi masyarakat Desa Puyung untuk mengembangkan budidaya kunyit dalam skala besar. Meski lahan tersedia luas dan tanaman tumbuh subur, banyak warga yang memilih untuk menanam dalam jumlah terbatas saja atau menjadikannya tanaman sampingan.
Risiko kerugian akibat biaya panen yang kadang tidak tertutup oleh harga jual membuat petani bersikap pragmatis. Mereka enggan melakukan investasi besar jika di akhir musim tanam, harga pasar justru berada di titik nadir.
Harapan Akan Tata Niaga yang Adil
Masalah yang dihadapi Desa Puyung adalah potret nyata tantangan sektor rempah di Indonesia. Dibutuhkan peran pemerintah maupun pihak swasta untuk membantu menciptakan tata niaga yang lebih stabil, misalnya melalui pembentukan koperasi, hilirisasi produk (mengolah kunyit mentah menjadi bubuk atau ekstrak), atau menjalin kemitraan langsung dengan industri besar.
Tanpa adanya jaminan harga atau penyangga pasar, "Emas Kuning" dari Desa Puyung akan tetap menjadi potensi yang terpendam. Warga berharap, ke depan, kesuburan tanah mereka bisa berbanding lurus dengan kesejahteraan yang stabil, sehingga mereka tidak lagi ragu untuk memenuhi perbukitan Pule dengan tanaman kebanggaan desa mereka.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Dilema Petani Kunyit di Desa Puyung: Tanah Subur Namun Harga Pasar Tak Terukur
- Kader Kesehatan Desa Puyung Gelar Halal Bihalal, Perkuat Silaturahmi dan Komitmen Pelayanan
- Sambatan Panen Padi Tetap Lestari di Desa Puyung Tahun 2026, Wujud Nyata Guyup Rukun Warga
- Harga Jahe Menggoda, Tanaman Milik Warga Puyung Dicuri Malam-malam
- Siklus Emas di Balik Dorman: Petani Desa Puyung Mulai Panen Porang
- Posyandu Lansia Dusun Ponggok 2026: Lansia Antusias Ikuti Senam, Cek Kesehatan, dan Terima PMT
- Melebur dalam Maaf: Tradisi Halal Bihalal PPDI Pule untuk Memperkokoh Solidaritas
















