“Tedak Sinten Tetap Lestari di Desa Puyung, Dari Kurungan hingga Ritual Belik Sarat Makna”
Wina Purwanto 05 April 2026 11:08:03 WIB
PUYUNG-Tradisi adat Jawa Tedak Sinten atau yang kerap disebut juga dengan mitoni masih terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Di era modern seperti saat ini, ketika berbagai budaya luar dengan mudah masuk ke kehidupan masyarakat, warga Desa Puyung justru menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga dan melestarikan tradisi leluhur yang sarat nilai filosofis ini.
Tedak Sinten merupakan upacara adat yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas tumbuh kembang seorang anak, khususnya saat mulai belajar berjalan. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol perjalanan awal kehidupan seorang anak, tetapi juga mengandung doa dan harapan agar sang anak kelak mampu menjalani kehidupan dengan baik, selamat, dan penuh berkah.
Di Desa Puyung, pelaksanaan Tedak Sinten memiliki rangkaian prosesi yang khas dan masih dijaga keasliannya. Salah satu tahapan penting dalam ritual ini adalah prosesi kurungan, di mana anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihias dan diisi berbagai benda simbolis. Benda-benda tersebut melambangkan pilihan hidup, seperti alat tulis yang melambangkan pendidikan, uang sebagai simbol rezeki, hingga perhiasan yang melambangkan kemakmuran. Pilihan yang diambil oleh sang anak dipercaya menjadi pertanda arah masa depannya.
Setelah prosesi kurungan selesai, rangkaian acara berlanjut dengan tradisi yang menjadi ciri khas Desa Puyung, yakni mengiring sang anak menuju belik atau sumber air yang digunakan sehari-hari oleh warga. Prosesi ini dilakukan dengan penuh kekhidmatan dan kebersamaan, diiring oleh keluarga serta masyarakat sekitar.
Dalam ritual menuju belik ini, seluruh rangkaian kegiatan dipimpin oleh seorang dukun bayi yang dituakan. Sosok dukun bayi ini memiliki peran penting sebagai pemimpin adat yang memahami tata cara dan makna dari setiap prosesi. Dengan penuh kehati-hatian dan doa-doa tradisional, ia memandu jalannya ritual agar berlangsung sesuai dengan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sesampainya di belik, dilakukan prosesi sederhana yang sarat makna, seperti membasuh atau mengambil air. Air dalam tradisi ini melambangkan kehidupan, kesucian, dan keberlangsungan. Melalui ritual ini, masyarakat berharap agar sang anak selalu mendapatkan kehidupan yang jernih, bersih, dan penuh keberkahan, sebagaimana sifat air yang menjadi sumber kehidupan.
Setelah prosesi di belik selesai, rombongan kembali ke rumah dengan suasana penuh kebahagiaan. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan kegiatan genduri tasyakuran, yang menjadi puncak kebersamaan antara keluarga dan masyarakat. Dalam genduri ini, warga berkumpul untuk berdoa bersama, memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan dan pertumbuhan sang anak, sekaligus memohon keselamatan di masa mendatang.
Selain sebagai bentuk syukur, genduri juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Hidangan yang disajikan dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan yang hangat, mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga di Desa Puyung.
Keberadaan tradisi Tedak Sinten yang tetap eksis hingga saat ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Puyung masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal. Peran para sesepuh, termasuk dukun bayi, serta kesadaran generasi muda untuk tetap melaksanakan tradisi ini menjadi kunci utama kelestariannya.
Dengan terus dilestarikannya Tedak Sinten, Desa Puyung tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus. Tradisi ini menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman, kearifan lokal tetap memiliki tempat dan makna penting dalam kehidupan masyarakat.
Komentar atas “Tedak Sinten Tetap Lestari di Desa Puyung, Dari Kurungan hingga Ritual Belik Sarat Makna”
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- “Tedak Sinten Tetap Lestari di Desa Puyung, Dari Kurungan hingga Ritual Belik Sarat Makna”
- Ratusan Warga Dusun Sendang Padati Acara "Gebyar Sholawat" Bersama Gus Badar
- Menelusuri Jejak "Kota Jipang": Harmoni Dingin dan Hijau di Bumi Puyung
- Menolak Punah: Dedikasi Pembuat Gula Aren Tradisional di Lereng Desa Puyung
- Harmoni Hijau di Balik Bukit: Asa Panen Padi Desa Puyung Segera Tiba
- Porang Memasuki Masa Dorman, Petani Bersiap Panen Katak untuk Musim Tanam Berikutnya
- Pasar Njajar, Nadi Ekonomi Warga Puyung, Sidomulyo dan Sekitarnya di Tengah Dinamika Zaman

















