Menelusuri Jejak "Kota Jipang": Harmoni Dingin dan Hijau di Bumi Puyung

Wina Purwanto 03 April 2026 12:02:59 WIB

TRENGGALEK – Tempo dahulu Jika Anda berkendara menuju dataran tinggi di wilayah Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, hamparan hijau yang menggantung di para-para bambu akan menyambut pandangan sejauh mata memandang. Inilah Desa Puyung, sebuah wilayah yang terletak di dekapan pegunungan dengan hawa sejuk yang menusuk tulang, namun menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa dari komoditas Labu Siam, atau yang akrab disebut warga lokal sebagai Jipang.

Berkah dari Udara Pegunungan

Ketinggian Desa Puyung yang berada di area pegunungan menjadikannya habitat alami yang sempurna bagi tanaman Sechium edule. Berbeda dengan daerah dataran rendah yang cenderung panas, hawa dingin Bumi Puyung memberikan kelembapan yang stabil bagi pertumbuhan Jipang.

Di sini, Jipang bukan sekadar tanaman pagar, melainkan komoditas utama yang tumbuh subur sepanjang tahun. Tanah vulkanis yang subur dan ketersediaan air yang melimpah membuat buah Jipang dari Puyung dikenal memiliki kualitas unggul: tekstur yang renyah, warna hijau yang segar, dan daya tahan yang lebih lama dibandingkan hasil dari daerah lain.

Puyung dan Julukan "Kota Jipang"

Saking melimpahnya produksi sayuran ini, muncul sebuah fenomena menarik dalam interaksi sosial masyarakat setempat. Para pedagang, pengepul, hingga warga dari luar daerah sering melontarkan candaan yang kini menjadi identitas yang membanggakan. Puyung sering dijuluki sebagai "Kota Jipang".

Sebutan ini bukanlah tanpa alasan. Di setiap sudut desa, mulai dari pekarangan rumah hingga lahan perbukitan yang luas, hampir mustahil untuk tidak menemukan tanaman Jipang. Julukan "Kota Jipang" menjadi simbol kemakmuran sekaligus pengakuan atas dominasi sayuran ini dalam roda ekonomi masyarakat Puyung atau yang juga dikenal dengan sebutan Bumi Mahdem.

"Kalau ke Puyung belum bawa oleh-oleh Jipang, rasanya belum sampai ke Kota Jipang," seloroh salah satu pedagang sayur di pasar lokal.

Ironi di Bumi Mahdem: Redupnya Kejayaan "Kota Jipang"

Namun, julukan "Kota Jipang" yang selama ini melekat erat pada Desa Puyung kini mulai dipertanyakan eksistensinya. Seiring berjalannya waktu, hamparan hijau para-para yang dahulu memenuhi sudut-sudut desa kini mulai jarang ditemui. Pemandangan asri tanaman labu siam yang merambat luas perlahan memudar, menyisakan lahan-lahan kosong atau beralih fungsi ke komoditas lain.

Pudarnya kejayaan Jipang di Bumi Mahdem ini nyatanya dipicu oleh dua faktor utama yang menghimpit para petani: serangan hama dan anjloknya nilai ekonomi.

Serangan Hama "Geret" yang Kian Ganas

Salah satu penyebab utama surutnya semangat bertanam warga adalah maraknya serangan hama pemotong batang atau yang akrab disebut warga lokal sebagai Hama Geret. Hama ini bekerja dengan cara merusak struktur batang utama tanaman, menyebabkan suplai nutrisi terputus dan mengakibatkan tanaman layu secara mendadak hingga mati sebelum masa panen tiba.

"Dulu menanam Jipang itu mudah, ditinggal saja sudah berbuah. Sekarang, baru mau merambat sudah habis dipotong geret. Biaya perawatan untuk pestisida tidak sebanding dengan hasil yang didapat," keluh seorang mantan petani Jipang di Desa Puyung.

Harga yang Tak Lagi Bersahabat

Kondisi semakin diperparah dengan harga jual labu siam yang terjun bebas di tingkat petani. Di Bumi Mahdem, harga sayuran ini seringkali menyentuh titik terendah yang dianggap tidak lagi logis secara bisnis. Murahnya harga di pasaran membuat pendapatan petani seringkali tidak mampu menutupi biaya operasional, mulai dari biaya pupuk hingga ongkos angkut ke pasar.

Menanti Titik Balik

Hilangnya tanaman Jipang dari lanskap Desa Puyung membawa kekhawatiran akan hilangnya identitas daerah yang telah terbangun selama puluhan tahun. Masyarakat berharap adanya campur tangan pemerintah atau ahli pertanian untuk mengatasi wabah hama geret, serta adanya stabilitas harga yang lebih menjamin kesejahteraan mereka.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi konkret, bukan tidak mungkin sebutan "Kota Jipang" hanya akan menjadi dongeng masa lalu bagi anak cucu di Bumi Mahdem. Kini, masyarakat hanya bisa mengenang masa-masa di mana setiap jengkal tanah Puyung adalah emas hijau yang membawa kemakmuran, sembari berharap kejayaan itu suatu saat akan kembali.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar