Menolak Punah: Dedikasi Pembuat Gula Aren Tradisional di Lereng Desa Puyung

Wina Purwanto 02 April 2026 19:45:40 WIB

TRENGGALEK – Di tengah gempuran pemanis instan dan modernisasi industri pangan, sebuah kepulan asap putih yang keluar dari celah atap bambu di pelosok Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, menjadi penanda bahwa sebuah tradisi leluhur masih berdenyut. Di sini, proses pembuatan gula aren tradisional tetap dipertahankan dengan cara yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun.

Bagi sebagian besar warga, menyadap nira bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk keharmonisan dengan alam. Meski profesi ini kian jarang ditemui karena prosesnya yang menguras tenaga dan penuh risiko, segelintir warga di Desa Puyung tetap setia memanjat pohon aren (enau) setiap pagi dan sore hari.

Perjuangan di Atas Pohon Aren

Ritual pembuatan gula ini dimulai sejak fajar menyingsing. Para penyadap harus memanjat pohon aren yang tingginya bisa mencapai 10 hingga 15 meter hanya dengan bantuan pring petung (bambu besar) yang diberi lubang sebagai pijakan. Dengan membawa jeriken atau bumbung bambu, mereka mengambil air nira yang telah menetes perlahan sejak sore sebelumnya.

"Kuncinya ada pada kesabaran saat menyadap. Jika pohon tidak diperlakukan dengan baik, nira tidak akan keluar dengan maksimal," ujar salah satu perajin lokal. Kesegaran nira menjadi harga mati, karena jika terlalu lama dibiarkan tanpa diproses, nira akan berubah menjadi masam dan gagal menjadi gula.

Proses Pengolahan yang Melelahkan

Sesampainya di dapur tradisional yang dikenal dengan sebutan pawon, nira tersebut segera disaring dan dituang ke dalam kawah atau wajan besi raksasa. Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Proses memasak nira membutuhkan waktu antara 4 hingga 6 jam, tergantung pada volume air yang dimasak.

Pengapian pun tidak boleh sembarangan. Warga Desa Puyung tetap konsisten menggunakan kayu bakar untuk menjaga suhu panas yang stabil. Penggunaan kayu bakar ini dipercaya memberikan aroma khas "sangit" yang wangi dan tekstur gula yang lebih legit dibandingkan menggunakan kompor gas modern. Selama berjam-jam, nira tersebut harus terus diaduk agar tidak gosong di bagian bawah, sementara asap tebal memenuhi ruangan dapur yang sederhana.

Dari Cairan Bening Hingga Menjadi "Emas Cokelat"

Seiring berjalannya waktu, cairan nira yang bening perlahan berubah warna menjadi kuning keemasan, lalu mengental menjadi kecokelatan. Saat buih-buih kental mulai muncul dan meletup-letup, itulah tanda gula siap dicetak.

Proses pencetakan pun masih menggunakan alat tradisional, yakni potongan bambu atau tempurung kelapa yang telah dibersihkan. Tanpa campuran bahan kimia atau pengawet sedikit pun, gula aren Desa Puyung hadir sebagai produk organik yang murni. Gula-gula ini kemudian didiamkan hingga mengeras sebelum akhirnya siap dipasarkan atau dikonsumsi sendiri.

Menjaga Warisan di Tengah Tantangan

Keberadaan pembuat gula aren di Desa Puyung kini menjadi pemandangan yang langka namun sangat berharga. Tantangan utama yang dihadapi bukan hanya soal tenaga yang terkuras, tetapi juga berkurangnya populasi pohon aren dan minat generasi muda untuk meneruskan estafet profesi ini.

Meski demikian, bagi warga yang bertahan, gula aren adalah simbol ketangguhan ekonomi lokal. Gula aren hasil olahan tradisional ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan dicari oleh penikmat pangan sehat karena indeks glikemiknya yang lebih rendah dibandingkan gula pasir.

Melalui kepulan asap dari dapur-dapur di Desa Puyung, tersirat sebuah pesan bahwa tradisi tidak akan hilang selama masih ada tangan-tangan terampil yang rela bergelut dengan api dan asap demi menjaga kemurnian rasa dari alam Trenggalek.

Komentar atas Menolak Punah: Dedikasi Pembuat Gula Aren Tradisional di Lereng Desa Puyung

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar