Harmoni Hijau di Balik Bukit: Asa Panen Padi Desa Puyung Segera Tiba

Wina Purwanto 01 April 2026 17:47:58 WIB

PULE, TRENGGALEK – Di tengah hamparan perbukitan yang menyelimuti Kecamatan Pule, sebuah pemandangan kontras namun menyejukkan mata tampak membentang di Desa Puyung. Rona hijau kekuningan mulai mendominasi petak-petak sawah warga, menandakan musim panen raya hanya tinggal menghitung hari.

Meskipun secara geografis Desa Puyung didominasi oleh dataran tinggi dan lereng curam, semangat agraris masyarakatnya tidak surut. Di celah-celah bukit yang ada, lokasi persawahan masih dapat dijumpai dengan subur. Uniknya, bentuk sawah di sini tidak memiliki bentang luas layaknya di dataran rendah, melainkan berupa petak-petak kecil yang tertata rapi mengikuti kontur alam.

Keunikan Sawah Terasering Skala Kecil

Sistem persawahan di Desa Puyung memiliki daya tarik visual tersendiri. Karena berada di medan perbukitan, para petani setempat menerapkan teknik pemetaan lahan yang sangat adaptif. Petak sawah dibuat berundak dan mungil guna menyesuaikan diri dengan kemiringan tanah.

Kondisi ini menciptakan labirin hijau yang estetik sekaligus menjadi bukti kecerdikan warga dalam mengelola lahan terbatas agar tetap produktif. Air pegunungan yang jernih mengalir melalui saluran-saluran kecil, memastikan tiap petak mendapatkan nutrisi yang cukup meski berada di ketinggian.

Siklus Tanam dan Kualitas Hasil Bumi

Secara umum, mayoritas petani di Desa Puyung menerapkan pola tanam dua kali panen dalam setahun. Hal ini menyesuaikan dengan ketersediaan air dan kondisi cuaca di pegunungan. Namun, di beberapa titik tertentu yang memiliki akses pengairan lebih stabil, sebagian kecil petani mampu memacu produktivitas hingga tiga kali panen setahun.

Menariknya, hasil panen padi dari Desa Puyung memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan padi dari daerah dataran rendah. Perbedaan ini diyakini kuat dipengaruhi oleh faktor geografis dan iklim lokal.

"Padi di sini mungkin ukurannya tidak sama persis dengan yang di bawah (dataran rendah), tapi rasanya punya kekhasan sendiri. Hawa dingin pegunungan dan tanah di sini memberikan pengaruh besar pada kualitas gabah yang dihasilkan," ujar salah satu warga saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di sawah.

Harapan di Tengah Dinginnya Pegunungan

Kecenderungan suhu yang dingin di wilayah Pule memang memberikan tantangan tersendiri bagi pertumbuhan tanaman. Proses pematangan bulir padi di dataran tinggi seringkali memakan waktu yang sedikit lebih lama dibandingkan di area panas, namun hal tersebut justru dianggap memberikan kepadatan tekstur nasi yang lebih baik oleh warga setempat.

Kini, para petani hanya bisa berharap cuaca tetap bersahabat hingga hari pemotongan tiba. Panen ini bukan sekadar rutinitas pertanian, melainkan simbol ketahanan pangan warga Desa Puyung yang mampu berdikari di atas lahan perbukitan. Keberhasilan panen kali ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi keluarga petani sekaligus melestarikan tradisi bercocok tanam yang sudah turun-temurun di wilayah Trenggalek bagian barat ini.

Kembalinya Kejayaan Padi Pasca Fenomena Porang

Di balik hamparan bulir padi yang mulai merunduk saat ini, tersimpan cerita tentang dinamika pilihan petani Desa Puyung dalam beberapa tahun terakhir. Sebagaimana diketahui, gelombang "demam porang" sempat melanda wilayah ini cukup masif beberapa waktu lalu. Tergiur oleh janji keuntungan yang melimpah, tidak sedikit warga yang sempat mengambil langkah berani dengan mengalihfungsikan lahan persawahan mereka.

Sawah-sawah yang semula basah dan berlumpur, kala itu sengaja dikeringkan. Tanaman padi yang menjadi sandaran pangan utama digantikan oleh bibit-bibit porang yang tertanam rapat di balik bedengan tanah. Namun, seiring berjalannya waktu, realitas pasar berkata lain. Harga porang yang sempat melambung tinggi perlahan mengalami penurunan drastis hingga mencapai titik terendah.

Restorasi Lahan Persawahan

Anjloknya harga komoditas ekspor tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat. Sejak setahun terakhir, terlihat tren besar di mana warga mulai kembali ke "fitrah" lahan mereka. Sawah-sawah yang sebelumnya gersang karena ditanami porang, kini mulai dialiri air kembali. Cangkul dan traktor mini kembali membajak tanah pegunungan Puyung untuk menyiapkan media tanam padi.

"Dulu memang banyak yang beralih karena harganya sangat menjanjikan, tapi sekarang warga lebih memilih kembali menanam padi. Meski skalanya tidak luas, padi memberikan kepastian pangan untuk keluarga," ungkap salah seorang petani setempat.

Proses pengembalian fungsi sawah ini bukanlah tanpa tantangan. Petani harus bekerja ekstra untuk menormalkan kembali struktur tanah yang sempat kering dan membenahi irigasi yang sempat terbengkalai. Namun, melihat hijaunya petak-petak sawah yang kini kembali mendominasi pemandangan desa, seolah menjadi bukti bahwa bagi masyarakat Desa Puyung, padi tetaplah komoditas utama yang tak tergantikan oleh tren sesaat.

Kembalinya warga menanam padi ini juga membawa dampak positif bagi ketahanan pangan lokal di tingkat desa. Dengan kembali produktifnya sawah-sawah di perbukitan Puyung, ketergantungan warga terhadap pasokan beras dari luar daerah dapat ditekan, sekaligus mengembalikan jati diri Desa Puyung sebagai salah satu lumbung pangan di wilayah Kecamatan Pule. tanam yang sudah turun-temurun di wilayah Trenggalek bagian barat ini.

Komentar atas Harmoni Hijau di Balik Bukit: Asa Panen Padi Desa Puyung Segera Tiba

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar