Harga Porang di Desa Puyung Tembus Rp11.800 per Kilogram, Petani Mulai Rasakan Angin Segar
Wina Purwanto 16 Maret 2026 05:33:27 WIB
Kabar menggembirakan datang dari para petani porang di Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Rumor mengenai kenaikan harga porang yang sempat beredar di kalangan petani beberapa hari terakhir ternyata bukan sekadar kabar angin. Setelah dilakukan pembuktian melalui panen langsung di lapangan, harga jual porang justru tercatat lebih tinggi dari yang sebelumnya diperkirakan.
Sebelumnya para petani sempat mendengar kabar bahwa harga porang di tingkat pengepul telah mendekati Rp10.000 per kilogram. Kabar tersebut sempat menumbuhkan harapan baru di tengah kekhawatiran para petani yang beberapa waktu lalu sempat merasakan anjloknya harga komoditas unggulan tersebut. Namun setelah dilakukan panen oleh salah satu petani, kenyataan di lapangan menunjukkan harga yang lebih menggembirakan.
Salah satu warga masyarakat Dusun Krajan Desa Puyung yang enggan disebutkan namanya, menjadi salah satu petani yang lebih dulu membuktikan kabar tersebut. Pada hari sebelumnya, ia melakukan panen sebagian tanaman porang miliknya yang berada di kawasan Dusun Krajan. Tanaman porang tersebut merupakan hasil budidaya yang ditanam pada tahun lalu dan kini telah memasuki masa panen.
Saat hasil panen tersebut dibawa ke pengepul, harga yang diterima ternyata mencapai Rp11.800 per kilogram, bahkan pada beberapa ukuran umbi tertentu harganya bisa lebih tinggi lagi. Fakta ini tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi para petani porang di Desa Puyung yang selama ini menaruh harapan besar pada komoditas tersebut.
Kenaikan harga ini menjadi bukti bahwa pasar porang mulai kembali menunjukkan geliat positif. Para petani yang sebelumnya sempat ragu untuk kembali menanam porang kini mulai merasakan optimisme baru. Selama beberapa musim terakhir, sebagian petani memilih mengurangi bahkan menghentikan budidaya porang karena harga yang sempat jatuh cukup drastis.
Namun dengan adanya kenaikan harga hingga hampir Rp12.000 per kilogram di tingkat pengepul, para petani mulai melihat peluang besar untuk kembali mengembangkan tanaman porang sebagai salah satu komoditas unggulan desa. Apalagi tanaman porang dikenal cukup cocok ditanam di wilayah perbukitan dan lahan tegalan seperti yang banyak terdapat di Desa Puyung.
Lahan di kawasan Ngasinan sendiri memang dikenal sebagai salah satu area yang cukup potensial untuk budidaya porang. Kondisi tanah yang gembur serta lingkungan yang masih banyak ditumbuhi pepohonan menjadi faktor yang mendukung pertumbuhan tanaman tersebut. Tidak heran jika hasil panen yang diperoleh juga cukup memuaskan.
Jika harga porang dapat bertahan pada kisaran harga saat ini, dampak positif tentu akan dirasakan oleh masyarakat Desa Puyung secara luas. Para petani yang menanam porang berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan yang cukup signifikan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.
Selain itu, kenaikan harga ini juga diprediksi akan mendorong semakin banyak warga yang tertarik untuk kembali membudidayakan tanaman porang. Pada musim tanam berikutnya, kemungkinan besar luas lahan porang di Desa Puyung akan kembali meningkat seiring tumbuhnya kepercayaan petani terhadap stabilitas harga komoditas tersebut.
Para petani pun berharap agar tren harga yang baik ini dapat terus bertahan hingga masa panen berikutnya. Dengan begitu, porang tidak hanya menjadi tanaman alternatif, tetapi juga dapat kembali menjadi salah satu komoditas andalan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat di Desa Puyung.
Optimisme kini mulai tumbuh di kalangan petani. Kabar kenaikan harga yang awalnya hanya menjadi rumor, kini telah terbukti nyata di lapangan. Bagi warga Desa Puyung yang selama ini menaruh harapan pada porang, kabar ini tentu menjadi penyemangat baru untuk terus bertani dan mengembangkan potensi pertanian desa.
Di tengah kabar menggembirakan mengenai naiknya harga porang yang kini mencapai kisaran Rp11.800 per kilogram di tingkat pengepul, sebagian warga Desa Puyung juga menyikapi kondisi tersebut dengan penuh kehati-hatian. Bagi para petani yang telah lama berkecimpung dalam budidaya porang, kenaikan harga seperti saat ini ibarat pisau bermata dua yang membawa harapan sekaligus kekhawatiran.
Beberapa petani mengingat kembali pengalaman pada siklus tahun-tahun sebelumnya. Saat itu harga porang juga sempat melonjak tinggi dan membuat banyak warga berbondong-bondong menanam tanaman tersebut. Hampir setiap lahan tegalan maupun kawasan hutan rakyat dimanfaatkan untuk budidaya porang karena dianggap sebagai komoditas yang sangat menjanjikan.
Namun ketika masa panen tiba dan produksi meningkat secara besar-besaran, pasokan porang di pasaran menjadi melimpah. Kondisi tersebut menyebabkan harga porang turun drastis dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan pada masa itu harga porang sempat jatuh hingga di bawah Rp2.000 per kilogram, jauh dari harapan para petani.
Pengalaman tersebut masih membekas dalam ingatan sebagian petani di Desa Puyung. Oleh karena itu, meskipun saat ini harga porang kembali menunjukkan tren positif, para petani tetap berharap agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Salah satu petani setempat mengungkapkan harapannya agar siklus harga kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai kondisi pasar porang saat ini memiliki peluang yang lebih baik dibandingkan masa lalu.
“Mudah-mudahan siklus kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sekarang sudah banyak berdiri pabrik-pabrik pengolahan porang di Trenggalek maupun di kabupaten sekitar,” ujar salah satu petani.
Keberadaan sejumlah pabrik pengolahan porang di wilayah Trenggalek dan daerah sekitar memang menjadi harapan baru bagi para petani. Dengan adanya industri pengolahan tersebut, diharapkan penyerapan hasil panen porang bisa lebih stabil sehingga tidak terjadi kelebihan pasokan yang menyebabkan harga jatuh secara drastis.
Selain itu, berkembangnya industri hilir porang juga diharapkan mampu memperkuat rantai pemasaran komoditas ini, sehingga petani tidak hanya bergantung pada pasar ekspor bahan mentah, tetapi juga mendapatkan nilai tambah dari hasil pengolahan.
Meski demikian, para petani tetap berharap adanya pengelolaan yang lebih baik dalam pengembangan porang ke depan, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Dengan demikian, komoditas yang telah menjadi salah satu andalan pertanian di wilayah perbukitan seperti Desa Puyung ini dapat terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa harus mengalami gejolak harga yang terlalu tajam.
Harapan pun kini disematkan agar kebangkitan harga porang saat ini benar-benar menjadi awal dari masa yang lebih stabil bagi para petani, bukan sekadar siklus sesaat seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Harga Porang di Desa Puyung Tembus Rp11.800 per Kilogram, Petani Mulai Rasakan Angin Segar
- Petani Empon-Empon Desa Puyung Resah, Tanaman Jahe Mengalami Kerusakan dan Dorman Sebelum Waktunya
- Semangat Petani Porang di Desa Puyung Kembali Tumbuh Seiring Kabar Harga Menguat
- Jaga Imunitas Generasi Penerus, Desa Puyung Gelar Imunisasi Rutin Balita
- Tradisi Maleman ing Desa Puyung, Wujud Ngalap Berkah Lailatul Qadar
- Menelusuri Sejarah Lingkungan Kapas Salah Satu Pemukiman Di Jantung Desa Puyung
- Kegiatan Posyandu ILP Ongkodono Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Warga Dusun Sendang

















