Merumput atau Ngarit, Rutinitas Harian Warga Desa Puyung di Tengah Lesunya Harga Kambing

Wina Purwanto 01 Maret 2026 18:41:41 WIB

Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek — Aktivitas merumput atau yang lebih dikenal dengan istilah lokal ngarit masih menjadi pemandangan sehari-hari yang begitu akrab di Desa Puyung dan wilayah sekitarnya. Setiap pagi dan sore, warga tampak hilir mudik membawa sabit, tali pengikat, hingga sepeda motor yang dimodifikasi untuk mengangkut rumput segar sebagai pakan ternak.

Mayoritas masyarakat Desa Puyung memang menggantungkan sebagian penghidupannya pada sektor peternakan, khususnya kambing dan sebagian sapi. Tradisi beternak ini telah diwariskan secara turun-temurun, menjadi bagian dari denyut nadi perekonomian warga. Di sela-sela aktivitas bertani, warga menyempatkan diri mencari pakan hijauan di ladang, tegalan, maupun area perbukitan yang masih ditumbuhi rumput dan dedaunan segar.

Seperti terlihat dalam keseharian, sepeda motor menjadi sarana andalan untuk mengangkut hasil ngarit. Tumpukan daun dan rumput yang menggunung di atas jok dan belakang kendaraan menjadi bukti kerja keras warga dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak mereka. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap hewan ternak yang menjadi tabungan hidup bagi banyak keluarga.

Namun demikian, di balik semangat warga dalam merawat ternak, kondisi harga kambing saat ini masih terbilang lesu. Para peternak mengeluhkan belum adanya tanda-tanda kenaikan harga yang signifikan di pasaran. Harga jual kambing cenderung stagnan, bahkan di beberapa kesempatan mengalami penurunan, terutama di luar momentum hari besar keagamaan seperti Idul Adha. Kondisi ini tentu berdampak pada pendapatan peternak, mengingat biaya perawatan, pakan tambahan, dan kebutuhan lainnya tetap harus dipenuhi.

Berbeda dengan kambing, harga sapi justru menunjukkan tren yang cukup baik. Permintaan pasar terhadap sapi potong relatif stabil, bahkan cenderung meningkat. Hal ini memberi angin segar bagi warga yang memelihara sapi, meskipun jumlahnya tidak sebanyak peternak kambing. Harga sapi yang lebih menjanjikan menjadi harapan tersendiri di tengah tantangan ekonomi pedesaan yang tidak selalu mudah.

Meski menghadapi situasi harga kambing yang belum menggembirakan, warga Desa Puyung tetap menjalankan aktivitas ngarit dengan penuh ketekunan. Bagi mereka, beternak bukan semata-mata soal keuntungan sesaat, melainkan investasi jangka panjang. Ternak sering kali menjadi penopang kebutuhan mendesak seperti biaya pendidikan anak, keperluan kesehatan, hingga kebutuhan sosial lainnya.

Selain itu, kegiatan merumput juga mencerminkan semangat kemandirian dan kerja keras masyarakat desa. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar, warga berupaya menekan biaya produksi dengan mencari pakan sendiri, alih-alih membeli pakan pabrikan yang harganya relatif mahal.

Ke depan, para peternak berharap adanya stabilitas dan peningkatan harga kambing agar usaha yang mereka jalani dapat memberikan hasil yang lebih seimbang dengan tenaga dan waktu yang telah dicurahkan. Dukungan dari berbagai pihak, baik dalam bentuk pendampingan, akses pasar, maupun kebijakan yang berpihak pada peternak kecil, menjadi harapan bersama.

Di tengah segala tantangan tersebut, aktivitas ngarit tetap menjadi simbol ketangguhan masyarakat Desa Puyung. Setiap helai rumput yang diikat dan diangkut pulang adalah cerminan perjuangan, harapan, serta ketekunan warga dalam menjaga roda perekonomian keluarga agar terus berputar.

Berada di kawasan perbukitan, Desa Puyung memiliki keunggulan tersendiri dalam hal ketersediaan pakan ternak. Kondisi geografis yang didominasi lahan tegalan dan lereng perbukitan justru menjadi berkah bagi para peternak. Selain rumput liar yang tumbuh subur hampir sepanjang tahun, warga juga secara swadaya menanam berbagai jenis tanaman pakan atau ramban untuk memastikan kebutuhan ternak tetap tercukupi.

Tanaman ramban seperti kaliandra, lamtoro, dan berbagai jenis daun-daunan lainnya banyak dijumpai di pinggir ladang maupun di sela-sela lahan pertanian. Selain itu, rumput gajah juga menjadi salah satu tanaman favorit peternak karena pertumbuhannya cepat dan produksinya melimpah. Tanaman ini dinilai sangat efektif untuk mencukupi kebutuhan pakan kambing maupun sapi dalam jumlah besar.

Menariknya, pola penanaman pakan ternak di Desa Puyung umumnya menggunakan sistem tumpang sari. Artinya, tanaman pakan ditanam berdampingan dengan tanaman pertanian lain seperti jagung, singkong, porang, maupun empon-empon. Sistem ini dinilai lebih efisien karena lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa harus mengorbankan komoditas utama pertanian warga.

Di lereng-lereng perbukitan, kaliandra kerap ditanam sebagai pembatas lahan sekaligus penahan erosi. Selain bermanfaat sebagai pakan ternak, akar tanaman ini juga membantu menjaga struktur tanah agar tidak mudah longsor saat musim penghujan. Sementara rumput gajah biasanya ditanam di tepi sawah, pinggir jalan desa, maupun sudut lahan yang tidak terpakai.

Dengan sistem tumpang sari ini, ketersediaan pakan relatif aman meskipun musim kemarau tiba. Warga tidak sepenuhnya bergantung pada rumput liar, karena sudah memiliki cadangan pakan dari tanaman yang mereka budidayakan sendiri. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan mereka.

Kondisi ini juga menjadi salah satu faktor mengapa aktivitas ngarit tetap berjalan stabil setiap hari. Warga tidak perlu mencari pakan hingga jauh ke luar desa, karena sumber hijauan sudah tersedia di sekitar lahan milik masing-masing. Selain menghemat tenaga dan waktu, cara ini juga menekan biaya operasional peternakan.

Di tengah harga kambing yang masih lesu, keberlimpahan pakan di daerah perbukitan seperti Puyung menjadi penopang penting agar usaha ternak tetap bertahan. Dengan dukungan alam yang subur serta kreativitas warga dalam menerapkan sistem tumpang sari, sektor peternakan di Desa Puyung masih memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang.

Ke depan, pola pemanfaatan lahan yang terpadu antara pertanian dan peternakan ini diharapkan dapat semakin diperkuat melalui pendampingan dan inovasi, sehingga kesejahteraan masyarakat Desa Puyung dapat terus meningkat di tengah dinamika harga pasar yang fluktuatif.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar