Menjaga Nyala Api Tradisi: Mengapa Warga Desa Puyung Masih Setia pada 'Pawon'
Wina Purwanto 21 Februari 2026 10:44:36 WIB
DESA PUYUNG – Di tengah gempuran modernisasi dan kepraktisan teknologi dapur masa kini, sebuah pemandangan kontras namun hangat masih mudah dijumpai di dapur-dapur warga Desa Puyung. Suara kayu terbakar yang gemeretak, aroma asap yang khas, dan pendar cahaya oranye dari tungku api tradisional atau yang akrab disapa Pawon, tetap menjadi jantung kehidupan bagi masyarakat setempat.
Meskipun zaman telah berubah dan tabung gas melon berwarna hijau hampir tersedia di setiap sudut dapur warga, eksistensi pawon seolah tak tergoyahkan. Bagi masyarakat Desa Puyung, pawon bukan sekadar alat memasak; ia adalah warisan, kenyamanan, dan simbol kemandirian pangan yang telah diwariskan turun-temurun.
Lebih dari Sekadar Tungku Masak
Bagi banyak ibu rumah tangga di Desa Puyung, memasak dengan gas seringkali hanya dianggap sebagai "pilihan kedua" atau sarana untuk memanaskan air di kala darurat. Namun, untuk memasak nasi, merebus sayur, atau mengolah hidangan utama, pawon tetap menjadi prioritas.
"Masakan yang dimasak di atas kayu bakar itu rasanya beda, Mas. Lebih sedap dan matangnya merata sampai ke dalam. Kalau masak nasi di pawon, ada aroma sangit yang justru bikin nafsu makan bertambah," ujar salah satu warga saat ditemui di sela-sela kesibukannya meniup bara api menggunakan semprong.
Selain faktor rasa, ada dimensi ekonomi dan ketahanan yang kuat di balik penggunaan pawon. Desa Puyung yang dikelilingi kekayaan alam menyediakan sumber bahan bakar yang melimpah. Ranting pohon kering, pelepah kelapa, hingga limbah kayu kebun bisa didapatkan secara gratis. Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, pawon menjadi penyelamat dompet warga yang ingin berhemat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada energi fosil.
Ruang Silaturahmi yang Hangat
Secara arsitektur tradisional, pawon seringkali menjadi tempat yang paling "hidup" di dalam rumah. Pada pagi hari yang dingin atau saat musim hujan melanda, anggota keluarga seringkali berkumpul di sekitar tungku untuk sekadar mencari kehangatan. Di sinilah obrolan-obrolan santai antar anggota keluarga terjadi, menciptakan ikatan emosional yang erat sambil menunggu masakan matang.
Pawon: 'Ruang Tamu Kedua' yang Menghangatkan
Bagi masyarakat Desa Puyung dan sekitarnya, kemewahan sebuah rumah bukan terletak pada sofa empuk di ruang depan, melainkan pada kehangatan luweng (tungku kayu) di area dapur atau mah pawon. Tak sekadar tempat memasak, dapur kini telah bertransformasi menjadi "ruang tamu kedua" yang penuh nilai sosial.
Tradisi Ngopi dan Camilan Hasil Bumi
Di ruang yang biasanya dipenuhi kepul asap kayu bakar ini, sekat-sekat formalitas antara tuan rumah dan tamu seketika runtuh. Sambil duduk di atas dingklik (kursi kayu kecil), pembicaraan mengalir deras ditemani aroma kopi hitam yang khas.
Tak ada hidangan mewah, namun keakrabannya tak tertandingi. Sembari berbincang, warga terbiasa:
Bakar Jagung: Menikmati hasil panen langsung dari ladang.
Bakar Ketela: Menunggu ketela matang di dalam sisa abu panas tungku.
Nyruput Kopi: Menikmati kopi pagi atau sore yang diseduh langsung dari air yang mendidih di atas bara api.
Kehangatan 'Api-api' di Musim Penghujan
Letak Desa Puyung yang berada di kawasan pegunungan membuat suhu udara seringkali turun drastis, terutama saat musim penghujan tiba. Di sinilah pawon menjalankan fungsi vitalnya sebagai ruang penghangat alami.
Masyarakat setempat mengenal istilah Api-api. Ini adalah tradisi duduk melingkari tungku yang menyala hanya untuk sekadar menghangatkan badan.
"Kalau sudah di depan tungku, dinginnya angin gunung jadi tidak terasa. Di sini kami tidak hanya berbagi api, tapi juga berbagi cerita hidup," ujar salah satu warga setempat.
Simbol Guyub Rukun
Fenomena mah pawon ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dalam menjaga kerukunan tetap terjaga erat. Mengajak tamu masuk ke dapur adalah bentuk kepercayaan dan penghormatan tertinggi, menandakan tamu tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga sendiri.
Di Desa Puyung, api di dapur tak hanya mematangkan masakan, tetapi juga terus merawat bara persaudaraan agar tidak pernah padam.
Tak hanya itu, asap yang dihasilkan dari pawon ternyata memiliki fungsi sampingan bagi konstruksi rumah tradisional. Asap kayu yang naik ke langit-langit seringkali berfungsi sebagai pengawet alami bagi kayu atap dan penyimpanan benih tanaman agar tidak dimakan hama.
Menghadapi Tantangan Zaman
Tentu saja, penggunaan pawon bukan tanpa tantangan. Masalah kebersihan dapur dan polusi asap di dalam ruangan menjadi perhatian bagi generasi muda. Namun, warga Desa Puyung memiliki cara unik untuk menyikapinya. Banyak warga kini mulai memodifikasi bentuk pawon mereka agar lebih efisien dan mengurangi asap yang berlebihan, tanpa menghilangkan esensi penggunaan kayu bakar.
Kesetiaan warga Desa Puyung terhadap pawon menunjukkan bahwa modernitas tidak harus selalu menghapus tradisi. Kehadiran kompor gas di samping pawon adalah bentuk adaptasi, namun nyala api dari kayu bakar adalah bentuk penghormatan terhadap jati diri pedesaan yang sulit digantikan oleh tombol otomatis sekalipun.
Hingga saat ini, asap tipis yang membubung dari sela-sela genting rumah warga di pagi hari tetap menjadi pertanda bahwa kehidupan di Desa Puyung masih terjaga dengan harmonis, dipelihara oleh bara api yang tak pernah padam di dalam pawon.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Rabat Jalan RT 20 RW 10 Dusun Sendang Desa Puyung Tuntas Dikerjakan Pertengahan Tahun 2025 Kemarin
- Menjaga Nyala Api Tradisi: Mengapa Warga Desa Puyung Masih Setia pada 'Pawon'
- Gema Ramadhan di Ujung Barat Trenggalek: Tradisi Megengan Awali Puasa Masyarakat Desa Puyung
- Tempuyung “Tempuh Wuyang” atau Timpuh Iyung, Tanaman Liar Sarat Manfaat dan Desa Puyung
- Filosofi di Balik Lembutnya Kue Apem: Sajian Maaf dan Syukur Masyarakat Nusantara
- Pemerintah Desa Puyung Umumkan Penyesuaian Jadwal Pelayanan Selama Libur Imlek 2026
- Harapan Warga Terjawab, Pihak Terkait Tinjau Jembatan Blimbing yang Rusak

















