Filosofi di Balik Lembutnya Kue Apem: Sajian Maaf dan Syukur Masyarakat Nusantara
Wina Purwanto 17 Februari 2026 05:57:14 WIB
Kue apem bukan sekadar jajanan pasar dengan tekstur empuk dan rasa manis yang sederhana. Di balik balutan tepung beras dan santannya, tersimpan narasi besar tentang akulturasi budaya, penyebaran agama, hingga simbol kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta.
Jejak Sejarah: Dari India Hingga ke Tanah Jawa
Secara historis, kue ini merupakan hasil akulturasi yang menawan. Diyakini berasal dari India dengan nama Appam, kue ini menyeberangi samudra dan mendarat di Nusantara. Oleh para pendakwah Islam, khususnya Wali Songo, kudapan ini tidak hanya diadaptasi bahannya agar sesuai dengan lidah lokal, tetapi juga diberi napas spiritual sebagai media syiar yang efektif.
Salah satu tokoh sentral dalam sejarah apem adalah Ki Ageng Gribig, keturunan Prabu Brawijaya. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau membawa kue ini untuk dibagikan kepada masyarakat di Jatinom, Klaten. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal tradisi pembagian apem yang kita kenal hingga saat ini.
Etimologi dan Simbol Ampunan
Nama "Apem" sendiri dipercaya menyerap kosakata bahasa Arab, yaitu afwun atau afuwwun, yang berarti ampunan. Penamaan ini bukanlah kebetulan. Dalam budaya Jawa, menyajikan apem adalah simbol permohonan maaf atas segala kekhilafan.
"Apem adalah bentuk fisik dari doa; sebuah harapan agar segala kesalahan dilebur sebelum melangkah ke lembaran yang baru."
Itulah mengapa apem menjadi menu wajib dalam tradisi Megengan (selamatan menyambut bulan suci Ramadhan). Selain sebagai simbol ampunan, di lingkungan keraton seperti Kasepuhan, apem juga dimaknai sebagai sedekah tolak bala untuk menjauhkan marabahaya dari keluarga dan lingkungan.
Tradisi di Desa Puyung: Merawat Warisan Leluhur
Kearifan lokal ini masih terjaga erat di Desa Puyung. Menjelang bulan Ramadhan, suasana desa akan berubah menjadi semarak dengan aroma wangi kukusan apem. Hampir setiap rumah warga sibuk mengolah adonan tepung beras dan santan.
Uniknya, di Desa Puyung, varietas apem tradisional masih sangat lestari, termasuk penggunaan daun nangka sebagai pembungkus atau alasnya. Penggunaan daun nangka ini bukan tanpa alasan; selain memberikan aroma khas yang menggugah selera, ia juga mencerminkan kemandirian dan kesederhanaan masyarakat desa dalam memanfaatkan hasil alam sekitar.
Jembatan Doa dalam Acara Sodakohan
Lebih jauh lagi, kue apem memiliki peran krusial dalam ritual Sodakohan atau peringatan kematian. Di Desa Puyung, apem merupakan menu wajib yang harus hadir dalam setiap tahapan peringatan:
7 hari dan 40 hari setelah kepergian.
100 hari hingga puncaknya pada 1000 hari (nyewu).
Kehadiran apem dalam acara sedekah kematian ini membawa pesan yang mendalam. Keluarga yang ditinggalkan menyajikan apem sebagai bentuk sedekah sekaligus permohonan ampun (afwun) kepada Tuhan atas segala dosa almarhum/almarhumah selama hidup di dunia.
"Apem di atas piring sodakohan adalah simbol ketulusan keluarga agar sang mendiang mendapatkan kelapangan dan pengampunan di alam sana."
Mengapa Harus Apem?
Pemilihan apem dalam peringatan kematian maupun Megengan di Desa Puyung didasari oleh tiga pilar utama:
Ketulusan (Sodakoh): Menjadi media berbagi kepada tetangga dan saudara.
Kepasrahan: Teksturnya yang lembut melambangkan kelembutan hati manusia dalam menerima takdir.
Harapan: Rasa manisnya melambangkan harapan akan kehidupan yang baik di masa mendatang maupun
Artikel ini menggambarkan kue apem sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Puyung, mulai dari sukacita menyambut Ramadhan hingga pengabdian terakhir bagi keluarga yang telah tiada.
Penutup
Menyantap sepotong kue apem berarti kita sedang merayakan sejarah panjang sebuah bangsa yang pandai merajut perbedaan. Dari teksturnya yang lembut, kita belajar tentang kelembutan hati untuk saling memaafkan, dan dari rasa manisnya, kita mengecap syukur atas berkat yang tak putus-putus.
Komentar atas Filosofi di Balik Lembutnya Kue Apem: Sajian Maaf dan Syukur Masyarakat Nusantara
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Gema Ramadhan di Ujung Barat Trenggalek: Tradisi Megengan Awali Puasa Masyarakat Desa Puyung
- Tempuyung “Tempuh Wuyang” atau Timpuh Iyung, Tanaman Liar Sarat Manfaat dan Desa Puyung
- Filosofi di Balik Lembutnya Kue Apem: Sajian Maaf dan Syukur Masyarakat Nusantara
- Pemerintah Desa Puyung Umumkan Penyesuaian Jadwal Pelayanan Selama Libur Imlek 2026
- Harapan Warga Terjawab, Pihak Terkait Tinjau Jembatan Blimbing yang Rusak
- Kirab Seribu Apem Semarakkan SD Negeri 2 Puyung (SEDAYU), Perkuat Kebersamaan .
- Lumpuhnya Ekonomi "Bank Hidup": Harga Kambing di Desa Puyung Tak Kunjung Pulih

















