Gema Ramadhan di Ujung Barat Trenggalek: Tradisi Megengan Awali Puasa Masyarakat Desa Puyung
Wina Purwanto 19 Februari 2026 07:18:18 WIB
TRENGGALEK – Suasana syahdu menyelimuti Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, saat fajar menyingsing pada Kamis, 19 Februari 2026. Ribuan warga di desa yang terletak di pelosok sisi barat wilayah Trenggalek ini secara serentak memulai ibadah puasa hari pertama bulan suci Ramadhan 1447 H.
Ketaatan spiritual masyarakat Desa Puyung yang mayoritas merupakan nahdliyin (pengikut Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama) memberikan warna khas dalam setiap prosesi penyambutan bulan suci. Sejak subuh tadi, masjid dan musala di seluruh pelosok desa dipenuhi warga yang melaksanakan salat berjamaah sebelum memulai aktivitas harian mereka sebagai petani dan pekebun.
Tradisi Megengan: Wujud Syukur dan Penghormatan Leluhur
Ritual ibadah puasa di Desa Puyung tidaklah berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, tepatnya pada Rabu (18/02), aroma harum masakan khas desa tercium dari hampir setiap dapur rumah penduduk. Masyarakat setempat menjaga teguh tradisi Megengan, sebuah ritual tasyakuran sebagai simbol "menahan" (dari bahasa Jawa: megeng) nafsu sebelum memasuki bulan puasa.
Hampir di setiap rumah penduduk digelar kenduri kecil. Para tetangga berkumpul, duduk bersila melingkar, dan melantunkan doa serta tahlil yang dikhususkan bagi para leluhur. Sajian kue apem—yang secara filosofis bermakna permohonan maaf (afwan)—menjadi menu wajib dalam berkat atau kotak nasi yang dibagikan.
"Megengan ini bukan sekadar tradisi makan bersama, tapi cara kami menyucikan hati dan menyambung silaturahmi dengan tetangga serta mengirim doa bagi keluarga yang telah tiada sebelum kami fokus beribadah satu bulan penuh," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kekuatan Filantropi dan Kebersamaan
Letak geografis Desa Puyung yang berada di daerah perbukitan dan jauh dari pusat kota tidak menyurutkan semangat religiositas warganya. Justru, keterpencilan ini memperkuat ikatan gotong royong. Selama bulan Ramadhan, Pemerintah Desa Puyung mencatat adanya peningkatan aktivitas sosial, mulai dari pembagian takjil gratis hingga persiapan buka bersama di masjid-masjid.
Kepatuhan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jamaah di desa ini tercermin dari pelaksanaan salat Tarawih yang dijaga kekhasannya, lengkap dengan selawat dan puji-pujian yang mengalun syahdu di antara sela-sela rakaat.
Harapan di Bulan Suci
Pemerintah Desa Puyung melalui pesan resminya menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh warga. Harapannya, Ramadhan tahun ini membawa keberkahan bagi hasil bumi desa dan meningkatkan kualitas ketakwaan masyarakat.
"Semoga Allah SWT berkenan menerima amal ibadah kita semua," menjadi doa yang terus dipanjatkan oleh warga saat mereka melangkah menuju masjid di malam pertama Ramadhan, menandai dimulainya perjalanan spiritual di tanah pegunungan Pule tersebut.
Kegembiraan spiritual di Desa Puyung tidak hanya terasa di awal Ramadhan. Memasuki sepuluh malam terakhir, atmosfer religius di desa ini justru semakin meningkat. Ketika fisik mulai lelah setelah berminggu-minggu berpuasa, masyarakat Desa Puyung yang kental dengan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah justru memacu semangat ibadah mereka melalui tradisi Maleman.
Dimulai dari malam ke-21 hingga malam ke-29 Ramadhan (malam-malam ganjil), suasana di langgar dan masjid di pelosok Kecamatan Pule ini menjadi lebih hidup. Tradisi Maleman diisi dengan tasyakuran khusus yang dilaksanakan setelah salat Tarawih atau menjelang waktu iktikaf.
Menyongsong Lailatul Qadar Melalui Sedekah
Tradisi Maleman di Desa Puyung bukan sekadar rutinitas makan bersama. Ini adalah bentuk ikhtiar batin masyarakat untuk menyongsong datangnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Warga secara bergantian membawa berkat atau hidangan tasyakuran ke masjid.
"Kami percaya bahwa sedekah di malam-malam ganjil ini adalah cara menjemput keberkahan. Sambil menunggu waktu mustajab, kami berkumpul, berdoa bersama, dan memperkuat tali persaudaraan antarwarga desa," ungkap salah satu sesepuh desa.
Lantunan selawat dan zikir menggema membelah sunyinya malam di pegunungan Trenggalek, menciptakan harmoni antara ketaatan pada sang Pencipta dan penghormatan terhadap tradisi leluhur yang telah turun-temurun dijaga.
Puncak Kemenangan: Tasyakuran Riayan
Ritual panjang ibadah di bulan suci ini mencapai puncaknya pada malam takbiran. Begitu hilal awal Syawal terlihat dan suara bedug mulai bertalu-talu, masyarakat Desa Puyung menggelar tasyakuran penutup yang dikenal dengan istilah Riayan.
Jika Megengan adalah pintu masuk, maka Riayan adalah pintu keluar sekaligus perayaan kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Tradisi Riayan ini ditandai dengan:
Kenduri Takbiran: Warga berkumpul di musala atau rumah-rumah tokoh masyarakat untuk mengucap syukur atas kelancaran ibadah puasa.
Sajian Khas Lebaran: Menu-menu spesial seperti ketupat dan opor mulai disiapkan untuk dinikmati bersama sebagai simbol saling memaafkan.
Doa Penutup Ramadhan: Doa bersama agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun berikutnya.
Harmoni Iman dan Budaya
Melalui rangkaian tradisi mulai dari Megengan, Maleman, hingga Riayan, Pemerintah Desa Puyung bersama seluruh elemen masyarakat berhasil menunjukkan bahwa ketaatan beragama dan pelestarian budaya lokal bisa berjalan beriringan. Bagi masyarakat pelosok sisi barat Trenggalek ini, Ramadhan bukan sekadar kewajiban agama, melainkan momentum untuk mempererat struktur sosial dan memupuk rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT.
Dengan berakhirnya tasyakuran Riayan, warga Desa Puyung siap menyambut hari raya Idul Fitri dengan hati yang bersih, membawa semangat gotong royong yang semakin kuat di tengah tantangan zaman.
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Gema Ramadhan di Ujung Barat Trenggalek: Tradisi Megengan Awali Puasa Masyarakat Desa Puyung
- Tempuyung “Tempuh Wuyang” atau Timpuh Iyung, Tanaman Liar Sarat Manfaat dan Desa Puyung
- Filosofi di Balik Lembutnya Kue Apem: Sajian Maaf dan Syukur Masyarakat Nusantara
- Pemerintah Desa Puyung Umumkan Penyesuaian Jadwal Pelayanan Selama Libur Imlek 2026
- Harapan Warga Terjawab, Pihak Terkait Tinjau Jembatan Blimbing yang Rusak
- Kirab Seribu Apem Semarakkan SD Negeri 2 Puyung (SEDAYU), Perkuat Kebersamaan .
- Lumpuhnya Ekonomi "Bank Hidup": Harga Kambing di Desa Puyung Tak Kunjung Pulih













