Tempuyung “Tempuh Wuyang” atau Timpuh Iyung, Tanaman Liar Sarat Manfaat dan Desa Puyung

Wina Purwanto 18 Februari 2026 05:52:58 WIB

Tempuyung “Tempuh Wuyang” atau Timpuh Iyung, Tanaman Liar Sarat Manfaa

Tanaman liar yang kerap tumbuh di pekarangan, tepi jalan, hingga lahan berbatu ternyata menyimpan banyak khasiat. Tumbuhan yang dikenal dengan nama Tempuyung, atau dalam istilah lokal masyarakat disebut Tempuh Wuyang maupun tumbuh Timpuh Iyung, selama ini sering dianggap gulma. Padahal, tanaman ini memiliki nilai manfaat yang cukup tinggi, terutama dalam pengobatan tradisional.

Tempuyung mudah dikenali dari daunnya yang panjang, berwarna hijau segar, dengan tepi bergerigi dan tulang daun yang tampak jelas. Tanaman ini biasanya tumbuh merumpun dan mampu hidup di tanah yang kurang subur sekalipun. Ketahanannya terhadap berbagai kondisi lingkungan membuatnya sering dijumpai di sekitar permukiman warga.

Secara turun-temurun, masyarakat memanfaatkan daun tempuyung sebagai bahan herbal. Rebusan daunnya dipercaya membantu melancarkan buang air kecil, mengatasi panas dalam, serta membantu menjaga kesehatan ginjal. Bahkan, dalam beberapa literatur tanaman obat, tempuyung dikenal memiliki kandungan yang berpotensi membantu meluruhkan batu ginjal.

Selain manfaat kesehatan, keberadaan tempuyung juga menjadi bukti kekayaan hayati lokal yang perlu dijaga. Tanaman yang selama ini tumbuh liar sebenarnya dapat dibudidayakan secara sederhana di pekarangan rumah. Dengan perawatan minimal, tempuyung bisa menjadi apotek hidup keluarga.

Tokoh masyarakat setempat menyampaikan bahwa penting bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan tanaman-tanaman herbal tradisional seperti tempuyung. “Jangan sampai tanaman yang penuh manfaat ini hilang karena kita menganggapnya sekadar rumput liar,” ujarnya.

Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan alami, tempuyung atau Timpuh Iyung berpotensi menjadi salah satu tanaman herbal unggulan daerah. Upaya edukasi dan pemanfaatan secara bijak diharapkan mampu menjaga kelestarian sekaligus meningkatkan nilai ekonominya di masa mendatang.

Legenda Tumbuh Timpuh Iyung, Jejak Awal Sejarah Desa Puyung

Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, memiliki kisah sejarah yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Salah satu versi sejarah yang hingga kini masih diyakini warga berkaitan erat dengan keberadaan tumbuhan liar yang dikenal dengan sebutan Timpuh Iyung atau Tempuyung.

Konon pada masa lampau, wilayah yang kini menjadi Desa Puyung masih berupa hutan belantara perbukitan yang lebat dan sulit dijangkau. Pepohonan besar menjulang tinggi, semak belukar menutup hampir seluruh permukaan tanah, dan belum ada tanda-tanda permukiman manusia. Di tengah kondisi alam yang liar dan sunyi itulah, seorang pendatang dari Banyuwangi datang mengembara mencari tempat untuk menetap dan membuka kehidupan baru.

Sang pengembara dikenal sebagai sosok yang sakti dan memiliki tekad kuat. Namun setibanya di wilayah tersebut, ia mendapati bahwa hampir tidak ada tumbuhan yang dapat dimakan. Tanahnya berbatu dan dipenuhi vegetasi liar yang tidak ramah untuk bertahan hidup. Di tengah keterbatasan itu, hanya satu jenis tumbuhan yang dapat dikonsumsi, yakni rumput Timpuh Iyung yang tumbuh liar di sela-sela bebatuan.

Tumbuhan itulah yang menjadi penopang hidupnya di masa awal membuka hutan. Dengan ketekunan dan kesabaran, sang pengembara mulai melakukan babat alas, menebas pepohonan, membersihkan lahan, dan perlahan menjadikan wilayah tersebut layak dihuni. Proses itu tentu tidak mudah, mengingat kondisi hutan yang masih perawan dan penuh tantangan.

Dalam salah satu momen yang diyakini sebagai tonggak sejarah, sang pengembara mengucapkan kalimat yang hingga kini dikenang masyarakat:

“Suk yen ana rejaning zaman, desa iki katelaha Desa Puyung.”

(Untuk kelak jika zaman telah jaya, desa ini akan dikenal sebagai Desa Puyung).

Ucapan tersebut dipercaya sebagai cikal bakal penamaan Desa Puyung. Seiring waktu, wilayah yang semula hutan belantara itu mulai dihuni, berkembang menjadi perkampungan, dan kemudian menjadi desa yang tertata.

Pendatang dari Banyuwangi tersebut kemudian dikenal masyarakat sebagai Demang pertama Desa Puyung dengan sebutan Demang Jogo Tirto. Ia tidak hanya membuka hutan, tetapi juga membangun tatanan pemerintahan awal. Pusat pemerintahan kala itu dibangun di wilayah Dusun Sendang, Desa Puyung, yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari desa tersebut.

Jejak sejarah Demang Jogo Tirto masih dapat dijumpai hingga sekarang. Petilasan makam beliau berada di Makam Sowo RT 22 RW 11, Dusun Sendang, Desa Puyung. Makam tersebut kerap diziarahi warga sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh pembabat alas sekaligus pemimpin pertama desa.

Keberadaan kisah Timpuh Iyung bukan sekadar legenda, tetapi menjadi simbol perjuangan, ketahanan, dan harapan. Rumput liar yang dahulu menjadi satu-satunya sumber pangan itu kini dikenang sebagai bagian dari identitas sejarah Desa Puyung. Cerita ini mengajarkan bahwa dari keterbatasan dan kesederhanaan, dapat lahir sebuah peradaban.

Hingga kini, masyarakat Desa Puyung tetap menjaga dan merawat kisah tersebut sebagai bagian dari warisan budaya lokal. Di tengah perkembangan zaman, legenda Timpuh Iyung dan Demang Jogo Tirto menjadi pengingat bahwa desa yang kini berkembang pesat berawal dari perjuangan panjang di tengah hutan belantara perbukitan Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi Puyung

tampilkan dalam peta lebih besar