Desa Puyung menyimpan memori kolektif yang berkelindan antara mitos perjuangan dan kekayaan alam
Wina Purwanto 05 Februari 2026 05:58:10 WIB
Jejak Sang Demang dan Pohon Kehidupan (Versi Nira)
Alkisah, pada masa di mana hutan Trenggalek masih begitu rimbun dan sunyi, datanglah seorang pengembara sakti dari tlatah Sawo, Ponorogo.Konon beliau merupakan salah satu prajurit dari Pasukan Pangeran Diponegoro. Beliau bernama Jogo Tirto. Kehadirannya membawa angin segar bagi penduduk lokal; karisma dan kesaktiannya terpancar hingga masyarakat sepakat mengangkatnya menjadi pemimpin atau Demang pertama.
Hingga saat ini, jejak kediaman Sang Demang diyakini berada di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai RT 22 RW 11 Dusun Sendang. Di sanalah jantung pemerintahan Desa Puyung pertama kali berdenyut.
Etimologi "Puyung":
Kehidupan masyarakat kala itu sangat bergantung pada kemurahan alam, khususnya pohon aren (enau) yang tumbuh subur. Aktivitas utama warga adalah menyadap nira (badeg) untuk diolah. Dalam dialek lokal:
* Ngepuh: Istilah untuk kegiatan memeras atau menyadap nira.
* Luyung: Nama yang diberikan warga setempat untuk pohon aren.
Perpaduan aktivitas Ngepuh Luyung ini perlahan menyusut dalam lisan masyarakat menjadi Puhyung, dan seiring berjalannya waktu, abadi menjadi Puyung. Sebuah nama yang menjadi simbol kemakmuran dari tetesan manis air nira.
Sabda dari Tanah Timur: Legenda Rumput Kehidupan (Versi Timpuh Iyung)
Dalam versi lain yang tak kalah memikat, narasi bergeser pada masa di mana desa ini masih berupa hutan belantara yang pekat. Alkisah, seorang pendatang jauh dari Banyuwangi menginjakkan kaki di tanah ini dengan niat menetap.
Namun, tantangan besar menghadang. Hutan tersebut tampak gersang dari sumber pangan yang lazim. Di tengah rasa lapar, sang pengembara menemukan sejenis rerumputan liar yang bisa diolah menjadi sayur, yang dikenal dengan nama Timpuh Iyung. Rumput inilah yang menjadi penyambung nyawa bagi para perintis desa.
Melihat betapa pentingnya tumbuhan ini bagi kelangsungan hidup manusia di sana, sang pendatang pun berucap (bersabda):
> "Mula mbesuk yen ana rejane jaman deso iki katelaho Desa Puyung."
> (Maka, jika kelak zaman telah ramai, desa ini dinamakanlah Desa Puyung.)
>
Nama "Puyung" dalam versi ini diambil dari penggalan suku kata terakhir tumbuhan penyelamat tersebut: Puh-yung. Menariknya, versi ini juga menguatkan bukti sejarah bahwa titik nol peradaban Desa Puyung bermula di Dusun Sendang, jauh sebelum pusat keramaian berpindah ke Dusun Krajan seperti yang kita saksikan hari ini.
Benang Merah Sejarah
Meski hadir dalam versi yang berbeda—satu tentang manisnya nira dan satu lagi tentang kesederhanaan sayur rumput—keduanya memiliki kesamaan yang hakiki: Dusun Sendang adalah tanah asal, dan Desa Puyung adalah simbol adaptasi manusia terhadap alam.
Hingga kini, nama Puyung bukan sekadar identitas administratif, melainkan pengingat akan ketangguhan para leluhur yang mampu mengubah "hutan belantara" menjadi "ruang kehidupan" yang harmonis di bumi Trenggalek.
Perjalanan waktu membawa perubahan besar bagi wajah fisik Desa Puyung. Sebelum menjadi perkampungan yang tertata, wilayah ini merupakan hamparan hutan perbukitan yang terjal dan menantang. Dengan semangat gotong royong, para leluhur mulai membuka lahan (mbabat alas), mengubah kemiringan bukit yang curam menjadi teras-teras kehidupan.
Karena kondisi geografisnya yang unik, pola pemukiman di Desa Puyung terbentuk secara alami mengikuti alur alam. Rumah-rumah penduduk tidak terkumpul dalam satu titik, melainkan tersebar secara sporadis—mulai dari lembah di kaki bukit hingga merambat naik ke kawasan perbukitan yang lebih tinggi. Lanskap ini menciptakan pemandangan khas desa pegunungan, di mana atap-atap rumah penduduk tampak menyembul di antara rimbunnya pepohonan dan petak-petak sawah tadah hujan.
Nadi Kehidupan: Pertanian dan Kesetiaan pada Alam
Sejak masa awal pembentukannya hingga kini, masyarakat Desa Puyung memiliki ikatan batin yang kuat dengan tanah mereka. Mata pencaharian utama sebagai petani bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan identitas. Sembari menggarap lahan, warga juga mengandalkan sektor peternakan sebagai tabungan hidup. Memelihara ternak telah menjadi aktivitas sampingan wajib yang memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di tengah tantangan alam perbukitan.
Era Modern: Melintasi Batas, Merajut Mimpi ke Luar Negeri
Memasuki era modern, dinamika sosial Desa Puyung mengalami pergeseran yang signifikan. Meski akar pertanian tetap terjaga, keterbatasan lahan dan keinginan untuk meningkatkan taraf hidup mendorong generasi mudanya untuk melebarkan sayap.
Kini, Desa Puyung tidak hanya dikenal melalui hasil buminya, tetapi juga melalui kegigihan warganya yang merantau ke berbagai daerah hingga ke mancanegara. Fenomena ini menjadi babak baru dalam sejarah desa; para perantau ini menjadi pahlawan devisa bagi keluarganya, membawa pulang modal dan pengalaman untuk membangun tanah kelahiran.
Perpindahan ini menciptakan potret Desa Puyung yang dinamis: sebuah desa yang tetap memegang teguh nilai tradisi dan pertanian di kaki bukit, namun memiliki pandangan yang luas hingga melintasi batas samudra demi masa depan yang lebih baik.
Komentar atas Desa Puyung menyimpan memori kolektif yang berkelindan antara mitos perjuangan dan kekayaan alam
ternyata benar nama yang menyimpan nilai historis jos
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Guncangan Gempa M 5,8 Pacitan Kejutkan Warga Desa Puyung, Warga Berhamburan Saat Terlelap
- Desa Puyung menyimpan memori kolektif yang berkelindan antara mitos perjuangan dan kekayaan alam
- Warga RT 11 RW 06 Dusun Ponggok Gelar Kerja Bakti Bersihkan Parit dan Jalan Desa
- Tak Mau Terisolir, Warga Dusun Sendang Trenggalek Bangun Kembali Jembatan Darurat Secara Swadaya
- Sinergi Forkopimcam: Diskusi Hangat Camat Pule dan Kades Puyung
- Akses Puyung-Kembangan Kembali Lumpuh, Jembatan Darurat Blimbing Ambrol Tergerus Abrasi
- Estafet Kepemimpinan LMDH Ganti Roso: Solekan Resmi Terpilih Menjadi Ketua Baru














